Tadi pagi membaca sebuah artikel tentang perbedaan kemajuan di Indonesia dan Korea Selatan. Poinnya, kekurangan Indonesia terletak pada empat aspek ini; rendahnya critical thinking, nihilnya systemic vulnerability, terlalu inward looking, dan fokus pada hal yang sepele sedangkan hal yang lebih besar diabaikan.

Indonesia adalah negara unik, salah satu negara kepulauan terbesar di dunia dengan penduduknya yang heterogen. Sejujurnya tidak mudah untuk bisa leap seperti Korea Selatan atau Brazil. It takes (very much) time. But we are heading to that situation, and I am in path to achieve that here  :)

#myramadhanstories #day13

Di senja itu, ada sesuatu yang berbisik; tentang pengalaman, tentang pengorbanan.

Di senja itu, ada pertemuan; tentang yang datang dan pergi silih berganti.

Senja berganti Malam tanpa ada beban…

 

photo

*foto diambil di perkampungan nelayan Brebes.

#myramadhanstories #day12

Brebes, Ramadhan 1436 H

Bersama Riski dan Ibu Koriyah (Brebes, Ramadhan 1436 H)

Namanya Koriyah, ibu enam orang anak. Berusaha untuk keluarganya sebagai buruh tani, pengemis sampai sekarang menjadi pengepul barang bekas. Dengan keterbatasannya, beliau bermimpi untuk membantu anak-anaknya sampai mereka sukses.

Allahummaghfir lii wa liwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayanii shaghiraa

#myramadhanstories #day11

“No man is a true believer unless he desires for his brother that, what he desires for himself.”

Abu Hamza Anas: Bukhari & Muslim

#myramadhanstories #day10

Kamis dan Jumat kemarin gue lagi “business” field trip ke Brebes di sebuah desa nelayan yang agak masuk sedikit di jalur pantai utara Jawa. Kami mengevaluasi sebuah program pengentasan kemiskinan berbasis pengembangan masyarakat dengan metode wawancara. Gue yang biasanya ngolah data behind the desk sangat antusias dengan metode yang gue baru pelajari ini. The results have been so good so far :)

Di sela-sela field trip, gue menyempatkan sholat jumat di sebuah masjid deket hotel. Masjid kecil ini diisi oleh orang-orang yang biasanya melaut. Masuk waktu dhuhur dan adzan pertama dikumandangkan. Gue rasa khatibnya adalah mubaligh setempat. Materi yang disampaikan sangat sederhana, tentang bagaimana menghadapi masalah sehari-hari. Begitulah tipikal ceramah di masjid desa. Sangat berbeda ketika minggu lalu gue jumatan di masjid belakang kantor dengan khatib ketua MUI. Ceramah di masjid-masjid ibukota dimana jamaahnya kebanyakan orang-orang penting dengan materi ceramah yang disampaikan ngga jauh-jauh sama urusan “tingkat tinggi”; korupsi, terorisme, bahkan isu-isu ghazwul fikr.

Setelah adzan kedua dikumandangkan, khatib naik mimbar. Di tengah-tengah ceramah, khatib menyampaikan sebuah analogi yang sangat mengena. Analogi yang disampaikan sebagai berikut: cobalah meminum segelas air yang ditetesi sesendok bratawali, rasanya pasti pahit. Namun, jika kita meminum segelas air dari sungai yang bersih yang ditetesi sesendok bratawali juga, bagaimana rasanya? Pahitnya tidak terasa kan ? :)

Jadi, bratawali adalah masalah sedangkan cara pandang kita menghadapi masalah adalah segelas air dan air sungai. Semakin sempit cara pandang kita, maka masalah yang kita hadapi akan terasa semakin besar dan terlihat semakin tidak ada jalan keluar. Ingatlah apabila kita tidak bisa makan setiap hari di restoran mahal, masih banyak yang makan sehari tiga kali saja susah.

“Soal ibadah, ilmu, dan amal, lihatlah selalu ke atas; soal rezeki, lihatlah ke bawah”

#ramadhanstories #day9

Ini Indonesia. Dalam perjalanan menyusuri pantai barat Aceh, kami disajikan views yang menakjubkan sepanjang perjalanan, seakan bukan di Indonesia. Subhanallah.

klik gambar untuk melihat foto lain

klik gambar untuk melihat foto lain

Teluk Krueng Raba, Ramadhan 1435 H.

#myramadhanstories #day8