Jauh di Mata, Dekat di Hati

Hari ini hari libur, tanggal merah memperingati Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW. Harpitnas di tengah-tengah ujian tidak serius tengah semester semester pendek kali ini. Fiuh, tak terasa satu bulan itu cepet ya. Kemarin baru aja uts ekonomi sumber daya alam dan lingkungan. As its name, mata kuliah ini membahas tinjauan lingkungan dari sisi ekonomi, istilah sustainable development yang didengung-dengungkan sangat relevan sama peristiwa lingkungan terkait dengan topik sosial kemasyarakatan serta permasalahan lingkungan yang menyertainya saat ini. Indonesia punya satu pakar tentang ilmu ini, Prof. Emil Salim, Ph.D. UTS Esdal berjalan lancar tanpa hambatan kayak jalan tol, semoga nilai yang keluar sebanding dengan ilmu yang didapat, aamiin. Tinggal satu UTS lagi, academic writing and presentation besok, mga2 ibunya ngasih nilainya baik, aamiin (lagi).

Back to the topic, entah kenapa pas liburan ini langsung keinget suasana rumah bareng keluarga; bapak, ibuk, adik, dan saya sendiri tentunya. Agak aneh karena di waktu yang sama, kami berempat berada di empat kota yang berbeda, terpencar karena kesibukan masing-masing. Saya di Depok, Bapak di Solo, adik di Probolinggo, dan ibuk di Jember.


haha, liat kan sodara-sodara, begitu jauhnya kami terpisah. Nah,dua lingkaran biru itu adalah tempat dimana biasanya kami sekeluarga menghabiskan waktu bersama; di rumah Leces, Probolinggo dan di rumah Kentingan, Solo. Dua garis ijo itu adalah jarak biasanya gw pulang kampung; ke Solo pas waktu mudik lebaran dan ke Probolinggo pas liburan semester ganjil. Bayangkan jauhnya yaa, ckck..

Timing yang pas buat ngumpul bareng adalah waktu lebaran sama keluarga besar di Solo besok. Dua tahun terakhir alhamdulillah bisa mudik ke Solo dan kumpul2 sma keluarga besar walaupun dua kali pula merasakan macetnya Pantura dan Cikampek yang Masya Allah. 😀

Masa-masa homesick berat udah terlewati, tp sering juga kayak sekarang tiba2 kangen sm suasana lingkungan rumah dan sekitarnya yang bedaaa bgt sama suasana depok..

Tenang, SP tinggal 1 bulan lagi kok, abis itu, ciao depok!

Be OK

I just want to be ok, be ok, be ok
I just want to be ok today
I just want to be ok, be ok, be ok
I just want to be ok today

I just want to feel today, feel today, feel today
I just want to feel something today

I just want to feel today, feel today, feel today
I just want to feel something today

Open me up and you will see
I’m a gallery of broken hearts
I’m beyond repair, let me be
And give me back my broken parts

I just want to know today, know today, know today
I just want to know something today
I just want to know today, know today, know today
Know that maybe I will be ok

Just give me back my pieces
Just give them back to me please
Just give me back my pieces
And let me hold my broken parts

I just want to be ok, be ok, be ok
I just want to be ok today
I just want to be ok, be ok, be ok
I just want to be ok today

I just want to feel today, feel today, feel today
I just want to feel something today
I just want to know today, know today, know today
Know that maybe I will be ok
Know that maybe I will be ok
Know that maybe I will be ok 

Be OK- Ingrid Michaelson

Like Father Like Son

Bagaimana seorang laki-laki memperlakukan perempuan, hingga cara ia mengontrol emosinya, ayah memiliki peran di balik hal-hal tersebut. Anak laki-laki belajar bersikap dari ayahnya. Dengan demikian, pengasuhan ayah penting bagi pertumbuhan anak laki-laki, termasuk dalam pembentukan kepribadiannya.

“Seorang ibu bisa membantu anak laki-lakinya tumbuh menjadi pria dewasa sejati. Namun, ayah memiliki pengaruh besar karena bisa mencontohkan anak laki-laki bagaimana menjadi pria,”
ungkap Roland Warren, Presiden National Fatherhood Initiative, grup advokasi nirlaba Amerika.

  • Mendampingi Anak
    Tugas pendampingan anak terkesan mudah dan sederhana. Namun, jangan pernah menyepelekannya. Ayah yang selalu menyempatkan waktu untuk anak laki-lakinya akan memberikan pengalaman yang berarti bagi anak. Anak laki-laki mendapatkan kesan mendalam dan pengalaman berharga ketika ayahnya banyak menghabiskan waktu dengannya. Anak laki-laki menangkap pesan di balik sikap ini bahwa ayahnya mencintainya, menyukai kegiatannya, dan selalu ada di sampingnya. “Sikap seperti ini membuat anak merasa aman dan nyaman, dan menjadi pembelajaran dalam diri anak mengenai karakter ayah yang baik,” kata Warren.
  • Memperlakukan Perempuan Dengan Baik
    Anak laki-laki belajar cara memperlakukan perempuan. Salah satunya dengan memerhatikan perilaku ayahnya. Ayah perlu menjadi contoh baik bagi anak laki-lakinya, dengan memperlakukan perempuan, terutama istri, dengan baik. “Ketika ayah berinteraksi dengan perempuan, khususnya dengan istrinya, ia harus mengakui kesalahan yang dibuatnya. Jika memang perlu minta maaf, maka lakukan. Berbicara dan bersikaplah dengan penuh penghargaan terhadap perempuan, terutama saat sedang bersilang pendapat,” ungkap Warren.
  • Berikan Sentuhan Fisik
    Studi menunjukkan bahwa permainan adu fisik yang dilakukan ayah dengan anak laki-lakinya berdampak positif. Anak laki-laki belajar cara mengontrol reaksi fisik dan mengatur emosi. Namun, ayah juga perlu memberikan sentuhan fisik seperti pelukan dan ciuman kepada anak laki-lakinya, sebagai bentuk penegasan atas rasa kasih sayang.

sumber 1, sumber 2

 

Early Warning buat Gw..

..dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (Q.S. An Nur: 26)

Serang lelaki bertanya kepada wanita, “Masih adakah wanita solehah di dunia ini?”

Jawaban yang sebenarnya adalah “Masih adakah lelaki soleh di dunia ini?”

Ayat di atas menjadi penjelasannya..

Delapan Tanda Lelaki Bermasa Depan Cerah

Apa yang Anda lihat ketika memilih pasangan? Pria yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang? Jika tujuan hubungan Anda hanya saat ini, mungkin itu cukup. Namun, bila yang Anda cari adalah hubungan yang serius hingga ke pernikahan, ada kriteria lain yang sebaiknya Anda lihat, yaitu potensi kesuksesan dia.

1. Punya tujuan hidup

Ketika Anda bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya.

Bahkan, ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, “Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir.”

2. Mandiri

Ia tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.

3. Hobi menolong

Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.

4. Bersahabat dan berwawasan

Sikapnya yang bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan pun akan segera menghampiri.

5. “Family man”

Pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.

6. Memiliki investasi

Saat ini gaji si dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.

7. Realistis dan lurus

Meskipun si dia bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian, jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan yang dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

8. Optimistis dan positif

Ia sangat tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia hampir tak pernah berkata “tidak bisa” atau “malas deh melakukannya”. Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.

Source: http://female.kompas.com/

Ada yang kurang, yaitu AKHLAK! Harusnya ditaruh di poin paling atas tuh. Tanpa akhlak yg bener, poin-poin dibawahnya gak guna.

Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena AGAMANYA, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)