pergi

pergi adalah melanjutkan kehidupan lain yang pelan-pelan meniadakan kehadiranku di sini, di sampingmu. tetapi, aku tidak akan sepenuhnya pergi, hanya tidak lagi menjadi bagian dari peristiwa-peristiwa yang kau alami dalam hidup milikmu–

bila aku pergi, kita berada di dunia kita masing-masing, aku hidup di duniaku, kau hidup di duniamu…

lingkaran hidup harus terus berputar. dan meski aku tak ingin pergi dan kau tak ingin aku pergi, hidup memang sering kali harus dilanjutkan dengan cara yang tak kita inginkan..

–curhat setan

Hati-hati Wabah NII

Pengantar dari Penulis

Penulis bukanlah salah satu dari anggota NII. Tujuan penulisan artikel ini hanyalah buah pemikiran akibat maraknya pemberitaan media tentang pembaiatan (baca: perekrutan) anggota Negara Islam Indonesia (NII) terutama di kalangan mahasiswa. Penulis berpendapat bahwa NII adalah aliran sesat karena ditinjau dari segi akidah, mereka telah bertentangan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Bismillah. Negara Islam Indonesia (disingkat NII; juga dikenal dengan nama Darul Islam atau DI) yang artinya adalah “Rumah Islam” adalah gerakan politik yang diproklamasikan pada 7 Agustus (ditulis sebagai 12 Syawal 1368 dalam oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo di Desa Cisampah, Kecamatan Ciawiligar, Kawedanan Cisayong Tasikmalaya Jawa Barat (Wikipedia). Pada masa Orde Lama, gerakan ini sempat memicu pemberontakan karena kegiatannya yang ingin melepaskan diri dari NKRI. Kekuatan militer sampai dikerahkan untuk menumpas pemberontakan ini. Tidak hanya di Jawa, gerakan NII/DI ini terjadi di wilayah Sulawesi, kalimantan, serta Sumatera.

Well, sampai sekarang gerakan ini tetap muncul dan beregenerasi seiring waktu.  Gerakan ini memiliki struktur perekrutan mirip Multi Level Marketing, memilik target pemasukkan dan jumlah anggota tertentu demi keberlangsungan organisasi mereka. Skema perekrutan sekarang ditujukan ke remaja, baik pelajar maupun mahasiswa.Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya (hampir 60%) anggota NII daerah Jaksel yang berhasil dihimpun oleh NII Crisis Center berstatus sebagai mahasiswa (sumber). , Dalam tahap rekrutmen, NII melakukan stalker kepada calon korbannya, mencari tahu tentang kegiatan rutin, hobi, serta keluarga. SElanjutnya, NII mengajak calon korbannya untuk bicara tentang Islam, kemudian diajak pengajian, menemui teman dari Timur Tengah, dll. Setelah tahap ini dilakukan, mereka melakukan indoktrinisasi, yaitu calon korban diambil sumpah untuk bersedia mengorbankan harta bahkan menyerahkan nyawa apabila NII meminta (Media Indonesia, 20 April 2011)

Lemahnya pemahaman kebanyakan mahasiswa Muslim terhadap Islam menjadi salah satu penyebab kenapa banyak calon anggota baru NII direkrut dari kalangan mahasiswa. Pengalaman teman penulis, ketika NII sampai ke tahap membicarakan tentang Islam, mahasiswa yang tidak memiliki pegangan/ pemahamana yang kuat apabila NII mengeluarkan argumentasi yang kuat untuk mengajak mereka bergabung ke organisasinya. bagi mahasiswa yang tahu bhawa mereka diincar NII dan mahasiswa ingin menghindar, anggota NII dengan tidak mengenal lelah mengejar mahasiswa tersebut. Parahnya, mereka (NII) sampai menguntit mahasiswa tersebut ke kosannya.

Mahasiswa yang diincar biasanya adalah mahasiswa luar daerah yang tinggal di rumah kosan. NII tidak memandang bulu apakah mahasiswa itu berasal dari keluarga kaya atau miskin, demi mewujudkan target mereka.  Sebagai mahasiswa yang berasal dari daerah dan tinggal jauh dari orang tua, alhamdulillah, penulis belum pernah didekati oleh orang-orang radikal seperti ini. Solusi unutk menghadapi organisasi-organisasi Islam radikal seperti ini adalah lebih mendalami Islam sehingga mahasiswa dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar dalam memandang ajaran agama Islam. Peran orang tua juga sangat penting dalam mengawasi putra-putrinya untuk tidak terjebak dalam organisasi ini. Intinya, mahasiswa harus punya landasan iman dan Islam yang kuat serta berani menolak setelah merasa terjebak dalam “lingkaran setan” NII.

NB: Link ini berisi cerita tentang mahasiswa UI yang hampir terkena perangkap NII

Probolinggo Kota Ulat Bulu

Hampir sebulan, sebagian wilayah Jawa Timur “diserang” oleh sekumpulan ulat bulu yang tidak diundang kedatangannya. Pemberitaan yang muncul selama itu juga membuat Probolinggo yang beberapa waktu lalu di-ekpose karena erupsi Gunung Bromo, sekarang disorot media kembali karena fenomena langka; serangan ulat bulu. Sebagian besar wilayah yang terkena serangan ini mayoritas adalah wilayah yang dekat dengan gunung Bromo. Wilayah paling parah yang terkena dampak ulat bulu adalah sebagian Kabupaten Probolinggo. Selama delapan belas tahun hidup disana, penulis pun belum pernah menemui fenomena seperti ini. Bahkan ini mungkin salah satu fenomena yang datang pada tiga puluh tahun terakhir. Aneh namun nyata, kawan!

Probolinggo dikenal dengan sebutan Bayuangga. Bayu bermakna angin karena setiap tahunnya kota ini tak pernah alpa terkena tiupan angin Gending. Angga berarti anggur dan mangga, menunjukkan kota ini terkenal dengan sentra produksi anggur serta mangga, terutama mangga Arum manis yang memiliki ke-khas-an daripada mangga-mangga yang diproduksi di daerah lain. Probolinggo dikenal pula dengan wisata gunung Bromo dan arung jeram Sungai Pekalen.  Namun, bertambah satu lagi sebutan bagi kota ini; Kota Ulat Bulu 🙂

Spesies ulat bulu yang menyerang Probolinggo adalah Arctornis Submarginata, salah satu spesies dari 120.000 spesies ulat bulu yang ada di dunia (Kompas, 9 April 2011). Ulat ini ditengarai adalah hama dari tanaman mangga dan kayu manis. Ditengarai sebab munculnya kawanan ulat bulu ini adalah erupsi Gunung Bromo yang beberapa bulan lalu melanda Probolinggo. Ngengat yang tinggal di kawasan hutan dekat Gunung Bromo bermigrasi ke wilayah penduduk karena habitat tempat tinggalnya yang lama. Ngengat yang bermigrasi ke wilayah penduduk ini tertarik dengan lampu-lampu rumah warga, sehingga pada akhirnya mereka menguasai pepohonan khususnya pohon mangga di wilayah itu.

sumber: Kompas ePaper, 9 April 2011

Predator alami seperti lebah maupun burung-burung pemakan serangga belum siap “menyambut” kedatangan ngengat-ngengat itu sehingga mereka kewalahan untuk menghadapi mereka.  Menurut pengamatan penulis, predator alami seperti burung banyak diburu oleh masyarakat sekitar serta ada kemungkinan debu Gunung Bromo menutupi sarang –sarang tempat menetaskan telur mereka. Menurut data Kementerian Pertanian, sebanyak 14.813 pohon mangga di Probolinggo diserang ulat bulu (Kompas, 9 April 2011). Secara ekonomi ini tentunya sangat merugikan.Asumsikan saja pohon mangga yang produktif jika saatnya musim mangga dapat menghasilkan sekitar 3 kilo mangga. Harga jual per kilo mangga sekitar Rp 10.000. Total kerugian potensial menurut data di atas berarti (14.813 x 3 x 10.000) = Rp 444.390.000. Wow, angka yang tidak sedikit, hampir setengah milyar rupiah! Untungnya kejadian ini tidak bertepatan dengan musim mangga sehingga petani atau warga yang menanam pohon mangga bisa melakukan perbaikan kembali terhadap tanamannya.

Langkah penanganan yang dilakukan pemerintah yaitu melakukan fogging pada tempat-tempat yang diserang ulat bulu. Hasilnya cukup efektif. Jumlah ulat bulu mulai berkurang. Namun, penangan dari pemerintah daerah kurang begitu sigap serta terkesan asal-asalan dalam melakukan fogging menyebabkan dampak kerusakan yang ditimbulkan lebih besar apabila pemerintah lebih sigap dalam penanganan masalah ini.

Diluar itu, pemerintah tidah sepenuhnya dijadikan kambing hitam atas masalah ini. Ketidakselarasan manusia dengan alam berimplikasi pada kekacauan siklus dari sebuah subsistem alaminya. Penembakan serta penggunaan pestisida kimia menjadi penyebab kenapa meledaknya populasi ulat bulu ini muncul.

Hiduplah berdampingan dengan alam, baik-baiklah dengannya, karena alam dan manusia merupakan pasangan serasi yang pernah Tuhan ciptakan

Kasus ulat bulu di Probolinggo ini adalah satu dari ratusan contoh yang ada di sekitar kita jika tidak ada rasa memiliki serta tanggung jawab dari manusia untuk mengurus lingkungan alam ini.

Elsa Ryan R

(masih) warga Probolinggo

Abdus Salam, Fisikawan Muslim Pertama Peraih Nobel

Abdus Salam, seorang figur ilmuwan Islam yang patut diteladani  oleh seluruh umat Muslim di dunia. Berkat pencapaiannya di dunia Fisika, pelajaran yang menurut sebagian orang adalah pelajaran paling sulit, Islam mampu menunjukkan “taring”-nya kembali di dunia pengetahuan modern.

Dalam usia sangat muda (22 tahun) Salam meraih doktor fisika teori dengan predikat summa cumlaude di University of Cambridge, sekaligus meraih Profesor fisika di Universitas Punjab, Lahore. Khusus untuk pelajaran matematika ia bahkan meraih nilai rata-rata 10 di St.John’s College, Cambridge.  Salam adalah satu dari empat muslim yang pernah meraih Hadiah Nobel. Tiga lainnya adalah Presiden Mesir Anwar Sadat (Nobel Perdamaian 1978), Naguib Mahfoud (Nobel Sastra 1988), Presiden Palestina Yasser Arafat (bersama dua rekannya dari Israel, Nobel Perdamaian 1995).

Penerima gelar Doktor Sains Honoris Causa dari 39 universitas/lembaga ilmiah dari seluruh dunia ini, yang sekali waktu pernah menyebut dirinya sebagai penerus ilmuwan muslim seribu tahun yang silam, telah menyatakan dengan tegas: harga diri suatu umat kini tergantung pada penciptaan prestasi ilmiah dan teknologis.

Harga diri itu, seperti yang telah dibuktikan oleh Salam sendiri bukan saja dapat mengangkat suatu masyarakat sejajar dengan masyarakat lain. Gerakan dan keikutsertaan mencipta sains teknologi akan memberikan kontribusi pada peningkatan harkat seluruh umat manusia, tanpa melihat agama dan asal-usul kebangsaannya. Itulah rahmatan lil alaamin.


Abdus Salam adalah fisikawan muslim yang paling menonjol abad ini. Dia termasuk orang pertama yang mengubah pandangan parsialisme para fisikawan dalam melihat kelima gaya dasar yang berperan di alam ini. Yaitu, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, gaya kuat yang menahan proton dan neutron tetap berdekatan dalam inti, serta gaya lemah yang antara lain bertanggung jawab terhadap lambatnya reaksi peluruhan inti radioaktif. Selama berabad-abad kelima gaya itu dipahami secara terpisah menurut kerangka dalil dan postulatnya yang berbeda-beda.

Salah satu tokoh inspirasi Muslim di zaman modern ini

 

Prinsip dari teori temuannya ini dapat menjelaskan rahasia penciptaan alam semesta dalam satu teori tunggal yang utuh.

Hingga akhir hayatnya, putra terbaik Pakistan itu mendapat tak kurang dari 39 gelar doktor honoris causa. Antara lain dari Universitas Edinburgh (1971), Universitas Trieste (1979), Universitas Islamabad (1979), dan universitas bergengsi di Peru, India, Polandia, Yordania, Venezuela, Turki, Filipina, Cina, Swedia, Belgia dan Rusia. Ia juga menjadi anggota dan anggota kehormatan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional 35 negara di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.

Lahir 29 Januari 1926 di Jhang, Lahore, Pakistan, Abdus Salam tergolong duta Islam yang baik. Sebagai contoh, dalam pidato penganugerahan Nobel Fisika di Karolinska Institute, Swedia, Abdus Salam mengawalinya dengan ucapan basmalah. Di situ ia mengaku bahwa riset itu didasari oleh keyakinan terhadap kalimah tauhid. “Saya berharap Unifying the Forces dapat memberi landasan ilmiah terhadap keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa,” kata penulis 250 makalah ilmiah fisika partikel itu.


Kecerdasannya tak kalah dengan Albert Einstein, Subhanallah 🙂

“Saya muslim karena saya percaya dengan pesan spiritual Alquran. Alquran banyak membantu saya dalam memahami Hukum Alam, dengan contoh-contoh fenomena kosmologi, biologi dan kedokteran sebagai tanda bagi seluruh manusia,” kata Abdus Salam dalam satu sidang UNESCO di Paris, 1984.

Dengan makalah The Holy Quran and Science, saat itu ia banyak mengutip ayat. Antara lain Alquran 88:17 dan Alquran 3:189-190 yang antara lain mengisahkan soal penciptaan langit, bumi dan seisinya.

Prof.Abdus Salam, wafat Kamis 21 Nov 1996 di Oxford, Inggris, dalam usia 70 tahun dan meninggalkan seorang istri serta enam anak (dua laki-laki dan empat perempuan). Semasa hidupnya, Prof. Abdus Salam meraih 19 Penghargaan. Berikut ini beberapa penghargaan yang diraih Prof. Abdus Salam;
Nobel Fisika, Stockholm, Swedia, 1979; Medali Josef Stefan dari Institute Josef Stefan, Ljublijana, 1980;
Medali emas untuk kontribusi tertinggi di bidang Fisika, Czechoslovak Academy of Science, Prague, 1981; Medali emas Lomonosov, USSR Academy of Science, 1983; Medali Copley, Royal Society, London, 1990

Prof.Abdus Salam, wafat Kamis 21 Nov 1996 di Oxford, Inggris, dalam usia 70 tahun dan meninggalkan seorang istri serta enam anak (dua laki-laki dan empat perempuan). Ia dimakamkan di tanah air yang teramat sangat dicintainya,dikota Rabwah- Pakistan. Kita yang ditinggalkannya kini hanya dapat bertanya, benarkah kita juga punya rasa harga diri religius, seperti rasa harga diri yang menggerakkan tokoh yang teramat dihormati oleh komunitas sains internasional ini? Yang pasti, penerima gelar Doktor Sains Honoris Causa dari 39 universitas/lembaga ilmiah dari seluruh dunia ini, yang sekali waktu pernah menyebut dirinya sebagai penerus ilmuwan muslim seribu tahun yang silam, telah menyatakan dengan tegas: harga diri suatu umat kini tergantung pada penciptaan prestasi ilmiah dan teknologis.

Referensi dari sini

Abdus Salam, seorang figur ilmuwan Islam yang patut diteladani  oleh seluruh umat Muslim di dunia. Berkat pencapaiannya di dunia Fisika, pelajaran yang menurut sebagian orang adalah pelajaran paling sulit, Islam mampu menunjukkan “taring”-nya kembali di dunia pengetahuan modern.

Dalam usia sangat muda (22 tahun) Salam meraih doktor fisika teori dengan predikat summa cumlaude di University of Cambridge, sekaligus meraih Profesor fisika di Universitas Punjab, Lahore. Khusus untuk pelajaran matematika ia bahkan meraih nilai rata-rata 10 di St.John’s College, Cambridge.  Salam adalah satu dari empat muslim yang pernah meraih Hadiah Nobel. Tiga lainnya adalah Presiden Mesir Anwar Sadat (Nobel Perdamaian 1978), Naguib Mahfoud (Nobel Sastra 1988), Presiden Palestina Yasser Arafat (bersama dua rekannya dari Israel, Nobel Perdamaian 1995).

Penerima gelar Doktor Sains Honoris Causa dari 39 universitas/lembaga ilmiah dari seluruh dunia ini, yang sekali waktu pernah menyebut dirinya sebagai penerus ilmuwan muslim seribu tahun yang silam, telah menyatakan dengan tegas: harga diri suatu umat kini tergantung pada penciptaan prestasi ilmiah dan teknologis.

Harga diri itu, seperti yang telah dibuktikan oleh Salam sendiri bukan saja dapat mengangkat suatu masyarakat sejajar dengan masyarakat lain. Gerakan dan keikutsertaan mencipta sains teknologi akan memberikan kontribusi pada peningkatan harkat seluruh umat manusia, tanpa melihat agama dan asal-usul kebangsaannya. Itulah rahmatan lil alaamin.

 

 

Abdus Salam adalah fisikawan muslim yang paling menonjol abad ini. Dia termasuk orang pertama yang mengubah pandangan parsialisme para fisikawan dalam melihat kelima gaya dasar yang berperan di alam ini. Yaitu, gaya listrik, gaya magnet, gaya gravitasi, gaya kuat yang menahan proton dan neutron tetap berdekatan dalam inti, serta gaya lemah yang antara lain bertanggung jawab terhadap lambatnya reaksi peluruhan inti radioaktif. Selama berabad-abad kelima gaya itu dipahami secara terpisah menurut kerangka dalil dan postulatnya yang berbeda-beda.

Olahraga Indonesia; Apa yang Salah?

Ekonomi olahraga adalah cabang dari ilmu ekonomi yang belum begitu populer di Indonesia. Ilmu yang mempelajari bagaimana seharusnya pelaku-pelaku olahraga menjadikan olah raga sebagai komoditas ekonomi dengan efisien dan berdaya guna tinggi untuk kesejahteraan masyarakat, belum sepenuhnya dipelajari dan diterapkan di Indonesia. Bukti paling konkrit adalah jarangnya keinginan masyarakat yang ingin menjadikan atlet sebagai cita-cita di masa depan. Berikut ini secuil tulisan yang berisi gagasan tentang olah raga di Indonesia. Semoga bermanfaat!!

“Tubuh yang kuat dan sehat merupakan penjaga yang baik bagi manusia.”

Socrates

Dalam kurun beberapa tahun beberapa tahun belakangan, dunia olahraga di Indonesia tidak memberikan prestasi yang cemerlang di pentas Internasional. Timnas sepak bola kalah 0-2 dari timnas Laos pada SEA Games XXV Laos. Hal ini merupakan hal yang memalukan karena setiap kali bertemu dengan Laos, Indonesia selalu berpesta gol ke kandang Laos. Sungguh ironis. Contoh lainnya adalah kegagalan tim Thomas Indonesia meraih piala Piala Thomas meskipun turnamen tersebut diselenggarakan di Indonesia bulan Mei 2010 dan yang terakhir di kandang sendiri pada kejuaran Indonesia Open Badminton Championship, Indonesia gagal merebut satu gelarpun dari lima gelar yang diperebutkan. Ada apa ini? Seperti halnya yang kita tahu, bulu tangkis Indonesia merupakan salah satu kekuatan bulu tangkis di dunia. Banyak legenda bulu tangkis Indonesia yang masih tercatat sebagai pemegang rekor dunia yang diantaranya sampai saat ini belum bisa dipecahkan oleh pebulu tangkis manapun di dunia. Pertanyaan yang mungkin muncul dari benak masyarakat Indonesia adalah apa yang salah dari olah raga Indonesia ??

Kekurang seriusan pembinaan usia muda adalah faktor utama dan paling mendasar kenapa pretasi atlet-atlet bangsa ini kurang bersinar di pentas Internasional. Prestasi suatu atlet dapat diukur dari seberapa sering dia menang dalam suatu kejuaraan atau kompetisi Internasional, contohnya Olimpiade yang dilaksakan empat tahun sekali. Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, atau Thailand, peringkat Indonesia berfluktuatif dengan ketiga negara tersebut dalam beberapa penyelenggaraan tiga Olimpiade terakhir (Sydney 2000, Athena 2004, Beijing 2008). Ternyata ketiga negara tersebut telah menyelenggarakan gerakan Olimpiade sejak 10 tahun yang lalu[1]. Bagaimana Indonesia? Persiapan yang terlalu singkat selalu menjadi kambing hitam apabila prestasi yang diraih tidak sesuai target yang dicanangkan. Namun, hal ini sepertinya sudah direspons pemerintah melalui KONI Pusat dengan membentuk Program Indonesia Emas (PRIMA), yaitu program jangka panjang pemerintah untuk membina atlet, khususnya atlet muda agar memiliki persiapan yang matang untuk berlaga di kompetisi Internasional. Pembinaan usia muda sebenarnya suda dilakukan sejak dulu dengan mendirikan sekolah olahraga (setara SMA) untuk menampung murid-murid yang memiliki bakat olah raga di cabang tertentu. Sekali lagi, inkonsistensi dan kekurangseriusan pemerintah untuk membina mereka dalam jangka panjang.

Masalah sarana dan infrastruktur yang kurang memadai menjadi faktor lain mengapa olahraga Indonesia belum mengalami kemajuan yang signifikan. Kurangnya gedung indoor olahraga atau kualitas rumput lapangan sepak bola yang kurang adalah beberapa contoh permasalahan kurang memadainya infrastruktur olahraga di Indonesia. Meskipun demikian, faktor sarana dan infrastruktur ini tidak boleh dijadikan alasan keterpurukan olahraga Indonesia. Mari kita bayangkan negara-negara di Afrika, misalnya. Atlet sepak bola negara-negara Afrika sudah bisa bersaing di pentas sepak bola Eropa, padahal dari segi pendapatan negara (PDB) dan tingkat pengangguran, Indonesia masih lebih baik.

Kementerian Pemuda dan Olahraga menyusun suatu indeks untuk mengukur kemajuan pembangunan olahraga pemuda di Indonesia. Indeks ini dinamakan Sport Development Index (SDI). Ada empat dimensi yang diukur yaitu ruang terbuka, sumber daya manusia, partisipasi, dan kebugaran[2]. Pada laporan Data Informasi yang diterbitkan Kementerian Pemuda dan Olahraga tahun 2008, angka indeks SDI di Indonesia sebesar 0,280. Angka tersebut termasuk kategori rendah (0-0,499). Ada tiga cabang olahraga yang menjadi primadona masyarakat Indonesia dilihat dari banyaknya persentase jumlah lapangan di setiap daerah, yaitu bola voli, sepak bola, dan bulu tangkis[3]. Jika kita bandingkan ketiga cabang olahraga ini, bulu tangkislah yang masih menjadi tumpuan bangsa ini untuk mendulang prestasi Internasional walaupun prestasinya masih angin-anginan. Dari ketiga cabang olahraga primadona tersebut, sepakbolalah yang memiliki prestasi paling mengecewakan. Kekalahan demi kekalahan terus dialami oleh Timnas Sepakbola kita. Sebagian orang meng-kambing hitam-kan ketua PSSI saat ini yaitu bapak Nurdin Halid karena tidak becus dalam mengurus sepakbola Indonesia. Kongres Sepak Bola Indonesia yang beberapa waktu lalu diselenggarakan di Malang belum menunjukkan kemajuan yang signifikan sampai saat ini. Padahal, seharusnya Timnas kita tidak sulit untuk mencari sebelas orang yang memiliki bakat bermain sepakbola yang bagus dari 234,2 juta jiwa penduduk Indonesia[4]. Di sisi lain, tidak adil rasanya apabila kemerosotan sepak bola negara ini ditimpakan kepada satu orang. Semua elemen masyarakat, khususnya pecinta bola harus melakukan introspeksi terhadap sepak bola Indonesia.

Mencintai olahraga sedini mungkin

Tentunya kita tidak ingin melihat fenomena ini terjadi di negara kita tercinta ini. Berbagai macam solusi mengemuka untuk menyelesaikan permasalahan olahraga di Indonesia. Solusinya antara lain menanamkan pola pikir cinta akan olahraga. Pola pikir cinta terhadap olahraga harus sedapat mungkin ditanamkan sejak kecil. Hal ini berlanjut apabila ketika anak-anak mulai menyenangi cabang olahraga tertentu, pada saat remaja mereka dapat memilih salah satu cabang olahraga yang dianggap sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Ketika anak-anak memasuki Sekolah Menengah Pertama dilanjutkan ke Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Kejuruan, potensi yang ada di dalam diri masing-masing anak mulai muncul. Berbagai macam perlombaan olahraga yang ada di tingkat sekolah lanjutan (SMP-SMA/SMK) membuat mereka terpacu untuk tidak hanya menjadikan olahraga sebagai hobi semata, tetapi dapat menjadi ajang meraih prestasi. Pola pikir dan sistem yang mengarahkan anak-anak untuk menjadikan olahraga sebagai media untuk mendapatkan prestasi diluar faktor akademis. Banyak orang tua dan guru di sekolah yang mengkhawatirkan jika seorang anak cenderung untuk bergelut di olahraga, prestasi akademisnya merosot. Memang kebanyakan terjadi trade-off antara mengikuti suatu lomba olahraga dengan kegiatan akademis sekolah. Namun, hal itu tidak menjadi masalah apabila siswa mampu mengatur waktu antara berlatih dan belajar.

Salah satu contoh pengelolaan olahraga terbaik di negeri ini adalah tournament basket DBL Indonesia. DBL (Development Basketball League) Indonesia adalah salah satu turnament basket semiprofessional pertama di Indonesia yang mempertandingkan SMA-SMA di Indonesia, mulai Aceh sampai Papua. Dengan konsep student athlete, turnamen ini mampu menyandingkan antara prestasi akademis dengan olahraga. Seorang siswa yang pernah tidak naik kelas atau nilai raportnya terdapat nilai enam satu saja tidak dapat mengikuti turnamen ini. Panitia selalu konsisten dan tegas dari tahun ke tahun, menjadikan turnamen ini berkembang setiap tahunnya. Konsistensi dan keyakinan akan perubahan menjadi landasan untuk membuat perubahan di dalam dunia olahraga Indonesia. Apabila setiap turnamen atau liga olahraga di negeri ini dikelola sebaik DBL  mulai dari sekarang, penulis yakin olahraga Indonesia akan berkembang kurang dari sepuluh tahun! Sistem yang tidak baik dibenahi dan sumber daya manusia yang ada dalam sistem tersebut harus diperbaiki terlebih dahulu untuk mewujudkannya.

Salah satu contoh konsep olahraga yang mulai menerapkan teori ekonomi olahraga secara komprehensif dan profesional.

Contoh sukses pengelolaan olahraga berdasarkan teori ekonomi olahraga

Selanjutnya, masih belum banyak pihak yang mengkaji olahraga dari sisi sains ataupun dari sisi ekonomi di Indonesia. Apabila kajian ini digalakkan secara intensif, khususnya di lingkungan kampus, penulis yakin prestasi olahraga Indonesia tidak akan mengalami keterpurukan seperti sekarang. Penulis mencoba mengkhususkan solusi kepada kajian ekonomi olahraga atau sports economics. Definisi sports economics sendiri adalah the study of those “sports” that were commercial[5]. Dilihat dari definisi tersebut, ekonomi olahraga dapat dikaitkan dengan unsur komersial. Kebanyakan cabang olahraga di Indonesia belum mampu mengkombinasikan antara olahraga dan bisnis, dalam artian mampu membawa dunia olahraga di Indonesia secara umum berkembang. Masih banyak induk dari cabang olahraga bergantung kepada subsidi rutin dari pemerintah. Hal yang paling mudah kita jadikan contoh adalah penggunaan biaya APBD untuk membiayai tim sepakbola di Liga Indonesia (LIGINA). Tidak tanggung-tanggung, dalam anggaran setahun saja, APBD yang dikeluarkan untuk membiayai satu tim LIGINA (sekarang ISL) adalah Rp 14 M, namun di akhir putaran liga, hasil yang didapat oleh tim itu tidak sebanding dengan apa yang mereka terima dari uang rakyat yang dikucurka untuk membiayai mereka. Namun, hal ini sudah dilarang sejak beberapa tahun lalu karena tidak berdampak apa-apa terhadap rakyat karena uang APBD adalah uang rakyat. Semenjak itu, banyak tim yang kelimpungan untuk mencari dana demi kelangsungan tim mereka. Meskipun ada beberapa tim menemukan sumber pendanaan dari sponsor, namun bagi tim yang tidak memiliki daya jual atau di daerahnya tidak terdapat perusahaan mapan yang mapan untuk bisa dijadikan sponsor, bisa dipastikan tim tersebut mengarungi kompetisi tahun selanjutnya dengan tidak maksimal. Hal ini berimplikasi kepada penurunan mutu liga karena gaji pemain menjadi lebih sedikit atau malahan para pemain belum mendapatkan gaji selama beberapa bulan sehingga mereka kurang bermain dengan semangat. Ironis, padahal status mereka adalah pemain professional yang berhak digaji sesuai dengan kontrak yang mereka buat.

Satu hal menarik apabila kita mencermati tentang kondisi ini. Beberapa cabang olahraga dalam penyelenggaraannya bekerjasama dengan sponsor perusahaan rokok. Kontradiktif memang. Kita semua tahu bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan, namun kenapa perusahaan rokok menjadi sponsor dalam berbagai kegiatan olahraga? Logika sederhananya adalah jika masyarakat mengkonsumsi rokok semakin meningkat sedangkan pendapatan dari rokok tersebut digunakan untuk membiayai olahraga di Indonesia, hasilnya sama saja; penduduk Indonesia yang mengkonsumsi rokok tidak tambah sehat, malahan secara umum hanya beberapa pihak saja yang dapat merasakan dampak positifnya daripada dampak negatif yang ditimbulkan. Untuk itu, dengan mengkaji sports economics, dapat dicari sumber pendanaan yang menguntungkan banyak pihak dalam rangka mewujudkan kemajuan olahraga Indonesia secara umum. Komersialisasi olahraga dengan cara lebih membuat atmosfer olahraga semakin kompetitif dan kondusif serta konsisten dalam artian konsisten dengan sistem yang dijalankan dan konsisten dengan waktu penyelenggaraan dalam suatu kompetisi. Jika ini dilaksanakan dengan baik, maka sponsor akan tertarik untuk berinvestasi.

“Setan” olahraga di Indonesia, harus dibasmi!

Sebagai penutup, penulis berharap kultur cinta terhadap olahraga bisa tumbuh dalam benak masyarakat Indonesia sehingga ke depannya olahraga tidak hanya dijadikan hobi semata, tetapi olahraga bisa dijadikan sebuah profesi yang prestatif. Untuk itu dibutuhkan upaya dari berbagai pihak,; masyarakat, pecinta olahraga, serta pemerintah untuk membuat kondisi olahraga Indonesia keluar dari keterpurukan. BRAVO OLAHRAGA INDONESIA !!


[1] Dalam Orasi Ilmiah Peningkatan Peran Aktif KONI dalam Gerakan Olimpiade, sebagai Upaya Strategis untuk Mencapai Prestasi Olahraga Indonesia di Tingkat Dunia yang dibawakan Ketua KONI Pusat 2007-sekarang di Universitas Negeri Semarang, 11 Maret 2010

[2] KEMENEGPORA, Penyajian Data Informasi Kemenegpora Tahun 2008. http://www.kemenegpora.go.id

[3] idem

[4] BPS. Data Sosial Ekonomi Bulan Juni 2010. http://www.bps.go.id

Gerakan Mahasiswa Indonesia: Arah dan Perjuangannya Dulu, Kini, dan Nanti

Kepada para mahasiswa, yang merindukan kejayaan.

Kepada para rakyat yang kebingungan, dipersimpangan jalan.

Kepada pewaris peradaban

Yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan

Dilembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan.

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta.

(Totalitas Perjuangan)

Demikian “lagu wajib” mahasiswa ketika mereka turun ke jalan.membawa suara dan teriakan rakyat yang biasanya tidak sampai ke telinga para pejabat di Senayan atau di Istana Negara. Mahasiswa tidak ubahnya sebagai “lidah” rakyat jelata. Ketika rakyat jelata sudah tidak mampu lagi melawan dan teriakan mereka tidak dihiraukan oleh pemerintah, mahasiswalah yang menyampaikan aspirasi dari segelintir golongan tersebut. Ya, segelintir golongan yang sayangnya mereka adalah (meminjam istilah Prof. Sri-Edi Swasono) kaum marginal-residual yang menjadi mayoritas penduduk di negeri ini, Indonesia.

Berbicara gerakan mahasiswa mungkin tidak akan habisnya. Wikipedia[1] mendefinisikan gerakan mahasiswa sebagai kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya. Gerakan mahasiswa Indonesia sebenarnya sudah dimulai dari zaman pendudukan Belanda di Indonesia. Pergerakan pemuda-pemuda di Indonesia dimulai pada tahun 1908 ketika pertama kali berdirinya Budi Utomo. Walaupun kesan primordialisme kedaerahan masih terlihat kental, namun Budi Utomo adalah tonggak awal pergerakan mahasiswa STOVIA saat itu. Kemudian di tahun 1928 ketika Sumpah Pemuda menjadi titik kulminasi dari perjuangan pemuda (baca: mahasiswa) yang saat itu dipelopori oleh Soetomo di Surabaya dan Ir. Soekarno di Bandung. Sampai tahun 1945, gerakan kepemudaan yang saat itu banyak dipelopori oleh pemuda berorientasi pada semangat kemerdakaan Indonesia. Lepas dari itu, pada tahun 1966, isu komunis yang berkembang saat itu dijadikan sebagai isu sentral untuk menggulingkan pemerintahan Orde Lama pimpinan Soekarno. Pada akhirnya, keluarlah SUPERSEMAR yang mengangkat Jenderal Soeharto sebagai pengganti Ir.Soekarno.

Peristiwa MALARI di tahun 1972 yang mengorbankan Arif Rahman Hakim serta gerakan mahasiswa di tahun 1990-an yang mengangkat isu Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) tersebut  cukup sensitif di kalangan mahasiswa. Pada akhirnya, gerakan fenomenal mahasiswa terjadi di tahun 1998 ketika mahasiswa menggulingkan pemerintahan Orde Baru pimpinan Alm. Jenderal Besar Soeharto. Penulis tidak perlu menceritakan kembali kejadian 1998 yang memakan sejumlah korban jiwa, baik dari kalangan sipil, militer, maupun mahasiswa sendiri. Kejadian 1998 sudah menjadi rahasia umum bagi rakyat Indonesia memicu sebuah “revolusi” kecil di negara ini. Dari uraian singkat di atas, dapat ditarik sebuah benang merah pergerakan mahasiswa dari zaman pra-kemerdakaan sampai pra-reformasi, yaitu 1) sebagai motor pergerakan pembaharuan dan 2) kepedulian dan keberpihakan kepada rakyat[2].

Menginjak masa pascareformasi yang sudah berjalan selama 12 tahun sejak digulingkannya Orde Baru, rakyat Indonesia masih belum melihat pegerakan frontal mahasiswa untuk menyuarakan kehidupan wong cilik yang sekarang semakin tersiksa oleh “penjajahan” terselubung. Apa itu penjajahan terselubung? Globalisasi yang masuk dari luar negeri, terutama dari negara-negara maju ke negara berkembang seperti Indonesia telah merenggut kedigdayaan ekonomi, sosial, dan (mungkin) kondisi poltik negara ini. Daya saing bangsa ini kalah telak dari negara-negara maju lain, bahkan dari negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, ataupun Malaysia. Indonesia perlu was-was apabila kesepakatan perdagangan bebas ASEAN dan Cina (ACFTA) jadi diberlakukan. Dengan negara-negara tetangga saja daya saing kita masih tertinggal, apalagi dengan calon negara adidaya baru seperti Cina(!)

Perlu kiranya apabila kita merenungi pidato Presiden Soekarno kepada Malaysia. Dikatakan bahwa dalam pidato tersebut bahwa Indonesia harus berdikari (self-help) dari berbagai bidang, terutama bidang ekonomi dan militer. Indonesia mampu menjadi kekuatan diantara negara-negara kuat lainnya karena Indonesia memberikan anugerah luar biasa berupa sumber daya alam yang melimpah di penjuru negara ini. Tapi, Tuhan Maha Adil. Ada sebuah jargon yang menyindir bahwa dibalik melimpahnya SDA di negeri ini, rakyat kita belum mampu memanfaatkannya secara optimal demi kemashlahatan masyarakatnya sendiri.

Bicara tentang idealisme mahasiswa, banyak aktivis pergerakan mahasiswa tahun 1966 maupun 1998 terlihat luntur. Mereka telah atau sedang berada di lingkaran sistem yang dulu mereka tentang habis-habisan. Mereka sekarang banyak bergabung di berbagai parpol baik yang pro-pemerintahan maupun yang oposisi. Mereka lupa dengan apa yang mereka perjuangkan semasa mahasiswa.

Peran mahasiswa dituntut lebih aktif lagi pascareformasi. Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa “terpanggil” sehingga terangsang untuk bergerak[3]. Pergerakan mahasiswa tidak hanya ditunjukkan oleh aksi demo, turun ke jalan, atau aksi anarkis lainnya. Mahasiswa dituntut untuk lebih cerdas dalam bertindak, dalam artian, tindakan yang diambil mahasiswa harus secara elegan. Mahasiswa dituntut untuk memiliki keteguhan hati dan idealisme yang kuat untuk tetap menomorsatukan permasalahan rakyat. Permasalahan negara ini tidak hanya yang ada di dalam negeri, tetapi kondisi luar negeri juga terkait dengan kebijakan yang diambil para policy-maker yang sering kali tidak berpihak pada wong cilik.

Dalam menanggapi kebijakan pemerintah yang biasanya kontra dengan apa yang dibutuhkan negara ini, mahasiswa acapkali langsung tanggap dengan aksi turun ke jalan. Tindakan seperti itu oleh mahasiswa dirasakan sebagai sebuah kegiatan yang sudah dianggap rutin. Ibn Ghifari[4] berkomentar bahwa suatu kegiatan yang dianggap rutin seperti aksi demo turun ke jalan biasanya tidak berdampak apa-apa malah mahasiswa akan terbiasa dengan kegiatan tersebut. Begitu pula dengan pemerintah. Maraknya aksi yang dilakukan oleh pelbagai gerakan mahasiswa tak membuat pengausa menjadi takut lagi dengan kedatangan kaum pelajar itu, terkadang para pejabat memandang sebelah mata terhadap segala bentuk tuntutan yang di lontarkan oleh generasi muda. Acapkali aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa ditunggangi oleh pihak-pihak yang membawa kepentingan tertentu. Banyak Korlap (Koordinator Lapangan) atau Danmas (Komandan Massa) dari sebuah aksi demo dibayar untuk menyusupi aksi tersebut. Tentunya, hasil yang dibawa mahasiswa tidak murni lagi menyampaikan aspirasi rakyat kecil.

Disini, peranan kampus memiliki arti penting dalam pergerakan mahasiswanya. Seharusnya, kampus mengkombinasikan intelektualitas mahasiswa dengan aksi politik-sosial agar keduanya bisa sejalan seirama. Tanpa bermaksud menyindir, saat ini sangat jarang ditemui para aktivis kampus yang sering turun ke jalan untuk berdemo menyuarakan aspirasi rakyat, memiliki IPK yang memuaskan. Dalam istilah ekonomi, istilah trade-off dan opportunity cost dapat menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi. Aktivis harus memilih antara memperjuangkan aspirasi rakyat atau kewajiban pribadinya sebagai seorang mahasiswa. Memang tidak mudah menjadi seorang mahasiswa. Perlu adanya sikap kenegarawan sejati yang mesti dipupuk ketika mahasiswa duduk di bangku kuliah. Sikap ini harus dimiliki setiap mahasiswa yang memiliki idealisme untuk menyampaikan aspirasi rakyat agar idealisme tersebut tidak luntur walaupun mereka tidak menyandang status sebagai mahasiswa lagi. Sikap kenegarawan ini penting sebab dibutuhkan rasa nasionalime dan patriotisme tinggi yang sekarang sudah semakin jarang ditemui mahasiswa yang masih memiliknya.

Sampai saat ini pun, penulis tidak menolak aksi turun ke jalan yang sering dilakukan mahasiswa untuk mengkritisi kebijkan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Namun, cara elegan yang dapat ditempuh adalah dengan menulis. Ya, menulis! Media saat ini memiliki arti yang cukup penting di era keterbukaan seperti sekarang. Media memiliki kekuatan yang tidak boleh dipandang sebelah mata lagi. Dengan menulis di media, kita bisa “berbicara” tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra namun suara kita tetap bisa sampai pada tujuannya. Sayangnya, budaya menulis untuk menyampaikan solusi belum menjadi budaya di sebagian besar kalangan masyarakat. Menulis itu penting, bahkan sangat erat kaitanya dengan peradaban. Menulis pada hakekatnya merupakan upaya mengepresikan apa yag dilihat, didengar, dirasa, dan dipikirkan dalam bahasa tulisan.

Tidak mungkin budaya aksi turun ke jalan dihilangkan, namun perlu adanya penyeimbangan. Dalam paragraph sebelumnya, penulis mengembangkan solusi berupa sifat dan sikap kenegarawan sejati yang harus dimiliki mahasiswa saat ini. Sifat dan sikap ini diharapkan menggantikan idealisme sempit mahasiswa dengan humanism yang mulia yang bersifat nasionalisme dan patriotisme. Kehidupan mahasiswa seyogyanya berlandaskan sifat cinta tanah air yang murni, tanpa adanya embel-embel lain yang menyebabkan perjuangan mahasiswa tidak lagi sebagai simbolisme perjuangan rakyat. Hidup mahasiswa!! (err)

Komplek PTKL Tigasan: Disinilah Impian Dimulai

Komplek PTKL, yang dikenal juga dengan komplek ‘E’ karena sebagian besar nomer rumah disana diawali dengan huruf itu, adalah tempat dimana cita-cita, harapan, dan kenangan terbalut menjadi satu.

Bertahun-tahun mungkin, komplek itu menyimpan begitu banyak kenangan bagi sebagian orang yang pernah menjadi bagian dari cerita.

Kesedihan.
kegembiraan.
Harapan.

Namun, seiring berjalannya waktu, satu persatu, generasi demi generasi pergi meninggalkan komplek tercinta. Alasannya hanya satu: karena orang tua pensiun. ya, kita harus berpisah karena satu alasan itu.

Dari komplek ini, harapan dipupuk.
Dan sekarang, lihatlah buah dari harapan itu telah tumbuh menjadi buah yang manis.

Anak-anak yang dulu bermain telah bisa membuat orang tua mereka tesenyum bangga.
Kuliah di perguruan tinggi negeri. Di Jakarta, Jogja, Bandung, Surabaya, Semarang, dsb.
Bahkan generasi awal dari komplek ini sudah bisa melanglang buana ke Eropa dan Jepang, melanjutkan studi 🙂
Sekarang. generasi muda harus bisa menyusul. Tentunya harus lebih baik dari mereka 🙂
Komplek Tigasan adalah kawah candradimuka orang-orang sukses masa depan. Dari sini kita wujudkan impian kita 😀

Tulisan ini dibuat untuk memotivasi dan mengingatkan kita bahwa kita pernah tinggal dan dibesarkan di kota kecil dan penuh kenangan ini. Semoga perpisahan bukan akhir dari silaturahmi yang telah dipupuk orang tua kita. Salah satu resep memperpanjang umur adalah menjaga silaturahmi 🙂

 

 

dari sini

Raja di Samping Rumah (Logika Matematika)

Diedit lagi karena bahasa penulisannya di sumber yang asli agak alay. Overall, tulisannya bagus. Tumben aja, hehe..

Malam,4 April 2011,dan besok tryout matematika,tryout terakhir..

Rencana awal sih belajar(baca:niat),tapi dengan cara yang gak seperti biasanya..

Mesti nyari lilin n HP dijadiin pembuka jalan..

Ya lumayanlah.,ad sedikit sumber cahaya..

Bab awal aku buka,.LOGIKA MATEMATIKA!

Mencoba buat memahami isi bahasan ini,.

Gak konsen,malah ini yang ada d otakku..
🙂

Teringat waktu kecil..
Hari yang selalu ditunggu,22 februari..
Sebuah kotak berisikan 3 buah roti yg ‘branded’ di kalangan kami pada saat itu..
Mungkin gara2 setiap tahunnya diBagi-bagikan oleh Raja kami waktu itu,setelah upacara bendera,roti itu jadi ‘branded’..:p

Teringat waktu kecil(lagi)..
Dimana ketika teman2ku sangat gelisah,gak bisa belajar semalam lantaran kegelapan,hanya aku yg diam,mersa beruntung,mendapat perlakuan berbeda dari Raja kami..

Dan sekarang aku sudah besar,dan cuma bisa mengingat2..

Sekarang,saat aku besar..
Ketika teman2 bercerita asyiknya beljar semalam,lagi2 hanya aku yg diam…

Raja kami sudah lelah,tidak mampu menghasilkan apa2 lagi..

Meskipun belajar gak konsen,sedikit bahasan bisa aku cerna..

P1: rumah terang jika pabrik jaya
P2: pabrik jaya jika pabrik produksi
P3: pabrik tidak produksi
K: ?

saat lilin habis lalu padam,berakhr juga note ini..
🙂

dari sini

Guru dan Murid

Hampir setahun ini, gw jadi pengajar di sebuah bimbel yang lumayan punya nama, ngajar berbagai tingkatan, mulai dari SD sampai SMA (yang terakhir ini jarang sih). Sebuah kontradiksi yg gw temuin, mereka itu ternyata kebanyakan dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Gw tahu cz karena gw liat hape (baca: handphone) mereka bagus-bagus. Gw mikir, wow, tajir-tajir juga mereka.

Bahkan ada yang pernah liat mereka bawa mobil, Otak gw mulai berpikir, kalau mereka termasuk kalangan menengah ke atas, pasti mereka dapet asupan gizi yang mencukupi, pendidikan yang pasti lumayan berkualitas, dan tentunya fasilitas yang lebih dibandingkan anak-anak yang lain.

Menurut gw, mereka cuma kurang satu hal; motivasi! Sebenernya mereka bisa meningkatkan preatasi akademik mereka tanpa ikut bimbel, tapi mereka kurang pede dan kurang disiplin. Gak salah juga kalo mereka butuh motivasi dan tambahan pelajaran di bimbel, tapi mereka sebenernya gampang untuk memotivasi diri mereka sendiri. Coba mereka mereka liat temen-temen mereka yang tidak seberuntung mereka, yang ga bisa ikut bimbel karena ada hal lain yang lebih mendesak daripada ikut bimbel.

“Keadaan yang membuat kita bisa lebih daripada orang lain”

Kebanyakan dari kita harus dipaksa untuk menjadi orang sukses, harus disuruh untuk bisa menjadi orang yang lebih baik. Kita dalah murid sekaligus guru untuk diri kita sendiri. Dari kita, untuk kita..