untuk hati yang tak ingin tersakiti..

Dear hati dimanapun kau berada,
bukan maksud hati untuk mecampakkan perasaan dan isinya..
Tidak juga hati ini ingin mengutarakan isinya ke lain hati.
Hanya waktu saja yang belum berkenan
untuk segala suatunya.

Bersabarlah,
merenunglah.
Tak apalah kau terbang ke lain hati jikalau kau lelah menunggu..
suatu saat ketahuilah,
bahwa menjaga hati untuk Allah Ta’ala
keabadiannya adalah selamanya

to my future wife

Sometimes I really wish you’d hurry up and come along. And I’m sure that you feel the same way too sometimes. But I know that it will happen when the time is right, and both of us are ready. So until then, I pray that God will continue to mold me into the woman that I need to be for you, and I pray that God is doing the same for you. I cannot wait to one day meet you and begin the rest of our lives together.

sumber disini

Diskriminasi di Korea

Setelah melihat video di atas, apa pendapat pembaca?
Sebelum saya mengemukakan opini saya, saya akan menjelaskan secara singkat cerita dari video tersebut.

Inti ceritanya adalah mengamati bagaimana respon orang-orang Korea (Selatan) terhadap foreigners (orang asing) yang berbeda ras (orang pertama dari memiliki ras Kaukasoid, satu lagi orang INDONESIA, ber-ras Mongoloid). Ternyata perlakuan orang-orang Korea sangat jauh berbeda dalam menanggapi kedua foreigners tadi. Sangat jelas diskriminasi yang diterima oleh orang INDONESIA (penulis menganggap orang tersebut adalah orang Indonesia karena namanya sangat Indonesia -Gunawan) sangat tidak mengenakkan. Dia seakan dicampakkan ketika dia bertanya dimana letak pusat perbelanjaan disana.

Sekilas gambaran tersebut mengindikasikan bahwa bagaimana di negara maju seperti Korea, penilaian sesorang hanya sebatas pada penilaian fisik dan bentuk tubuh. Tanpa mengesampingkan perbedaan responden yang lewat karena responden yang akan ditanya diambil secara random (berarti sebelumnya kita tidak tahu bagaimana sifat orang-orang tadi). Menurut penilitian, 25.9 persen dari penduduk Seoul yang berasal dari Asia Tenggara pernah mengalami diskriminasi dari orang Korea dan orang asing dari negara lain (sumber disini). Hal ini dikarenakan warga Korea yang masih homogen. Bahkan, diskriminasi sendiri masih terjadi terhadap sesama warga Korea.
Berbeda dengan Korea, masyarakat Indonesia cenderung lebih humble kepada orang asing tanpa melihat darimana dia berasal. Alasan agak ndeso adalah mungkin kebanyakan orang Indonesia senang jika bertemu dengan bule. Faktor keberagaman diantara masyarakatnya sebagai salah satu faktor masyarakat Indonesia terkesan terbuka bagi foreigners.

Setelah melihat fenomena di atas, satu pertanyaan menggelitik patut penulis lontarkan; apakah kita masih tertarik menonton drama Korea? :p

agak kecewa dengan template tema yang lama, sekarang gue mengganti template blog ini dengan lebih eye catching dan simpel. semoga pembaca gak bosen2 mbacanya yaa 😀

Evaluasi Mendalam

Sebagian orang menganggap bahwa korupsi selalu berhubungan
dengan uang dan materi. Sejatinya, korupsi dapat berbentuk
lain seperti korupsi waktu. Contoh konkrit korupsi waktu di
kalangan mahasiswa adalah sering datang telat ketika waktu
kuliah. Terlepas dari apapun alasan telatnya, mahasiswa
seharusnya sadar apabila perilaku tersebut sudah termasuk
salah satu korupsi. Mahasiswa lain akan terganggu apabila
ada mahasiswa masuk sewaktu dosen menjelaskan di depan kelas.
Sikap ini seyogyanya mampu menjadi evaluasi mendalam bagi
mahasiswa. Aksi turun ke jalan menuntut tegaknya hukum untuk
memberantas korupsi menjadi sia-sia belaka apabila mahasiswa
sendiri tidak mampu memberantas sikap-sikap prokorupsi
seperti contoh di atas. Mahasiswa sebagai agen perubahan suatu
bangsa harus mampu memberantas korupsi mulai dari hal yang
terkecil dan sederhana sebelum melangkah ke masalah yang
lebih tinggi. Oleh sebab itu, dibutuhkan dukungan dari
segala pihak terutama dosen dan masyarakat sekitar untuk
mendukung upaya mahasiswa memberantas korupsi sampai ke akarnya.

*Tulisan ini dimuat di Rubrik Kompas Kampus , 28 Desember 2011