Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.  Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir…

Q.S. 70 (19-21)

#myramadhanstories #day4

Seperti tahun-tahun sebelumnya sejak merantau ke Jakarta, gue selalu mengusahakan untuk membeli tiket kereta untuk pulang-pergi mudik. Kenapa kereta? Selain murah, waktu tempuh yang bisa diperkirakan membuat tiket yang dijual H-90 tanggal keberangkatan selalu ludes. Apalagi waktu itu service KAI juga sudah mulai membaik jadi orang-orang mulai mempertimbangkan mudik naik kereta api.

Circa akhir Ramadhan 1433 H, setelah menunaikan Taraweh, gue mulai berburu tiket mudik ke Solo. Seperti biasa kereta kelas ekonomi dan bisnis sudah ludes terjual, tersisa tiket kelas eksekutif yang membuat gue merogoh dompet cukup dalam jika ingin membelinya. Sebagai mahasiswa dan anak kosan dengan modal pulang kampung yang terbatas, gue mencari informasi kereta tambahan. Gue seharusnya bisa pulang lebih awal karena kegiatan perkuliahan sudah berarkhir pertengahan bulan puasa, namun kerjaan part-time di kampus membuat niatan itu harus diundur. SIngkat cerita, gue dapet info kalau KAI launching kereta ekonomi AC baru, namanya Krakatau. Kalau ngga salah ingat, waktu itu tiketnya masih 65.000, sekalian gue beli tiket bolak-balik lewat web KAI. Gue beruntung termasuk penumpang pertama yang naik kereta ini ( d^.^b )

Dari Stasiun Pasar Senen, kereta diberangkatkan persis ketika matahari di atas kepala. Untungnya, gerbong kereta yang masih kinyis-kinyis dan AC yang semriwing membuat perjalanan tidak terlalu membosankan. Perkiraan sampai stasiun tujuan akhir gue di Stasiun Jebres di Kota Solo sekitar pukul sebelas malam (ps: sekarang kereta ini tidak berhenti disana), jadi rata-rata lama perjalanan sekitar 12 jam. Untuk membunuh waktu, gue biasanya plonga-plongo di pintu kereta yang sengaja gue buka, melihat pemandangan yang tidak ditawarkan ketika kita naik moda transportasi lain. Kebetulan waktu itu juga senja mulai terlihat alias waktu maghrib akan tiba. Berbekal air minum yang sudah dibeli di stasiun, gue membatalkan puasa di atas pertemuan dua gerbong di kereta itu. Tak lama, datang sekelompok mas-mas (sepertinya cleaning service KA) yang ikut iftar disitu.

Sejenak gue liat tampilan mereka yang masih masih muda dan terdengar logat Jawa ketika mereka ngobrol, tak tahan juga gue akhirnya ngajak ngobrol mereka. Ternyata benar, umur mereka sepantaran gue! Sembari menghabiskan takjil, kami bercerita bagaimana mereka bisa bekerja di atas kereta. Mereka rupanya adalah pindahan dari kereta ekonomi sebelumnya, gue lupa apa. Alasan mereka pindah adalah insentif yang diterima dari perjalanan Krakatau ini lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dalam sebulan, setidaknya mereka hanya off sekitar seminggu, jadi jika sampai setiap hari ada dua perjalanan yang mereka harus jalanin dari Jawa Timur ke Jakarta pulang pergi, sebulan mereka bisa menghabiskan sekitar 42 kali perjalanan. Terbayang capeknya seperti apa…krakatau

Ada yang selalu bisa disyukuri dari setiap perjalanan…

#myramadhanstories #day3

Puasa tahun ini adalah puasa keenam gue jauh dari rumah. Perjuangan sebagai anak rantau selama membuat gue harus memutar otak supaya bagaimana bisa sahur dan iftar dengan lancar. Sewaktu masih tinggal di Depok, mencari takjil dan makan sahur masing lebih mudah dibandingkan sekarang. Bahkan, bukan anak kos namanya jika tidak tahu mana masjid yang sedia takjil gratis setiap hari 😀 Namun, sekarang takjil-radar sudah mulai terkikis karena terlalu malas mencari.

Seenak apapun makanannya, esensinya bukan dengan apa sahur/ berbuka, tapi dengan siapa kita menghabiskannya…

#myramadhanstories #day2

Persis setengah tahun berselang sejak tulisan terakhir diposting, blog ini lama banget ngga di-update dengan tulisan baru. Bertepatan dengan bulan Ramadhan, memori terbang jauh kembali di jaman-jaman jahiliyah gue masa SMP. Sama seperti malam kemarin, masjid-masjid di Leces sama penuhnya dengan masjid di tempat lain ketika malam Ramadhan tiba. Rutinitas menjalankan ibadah taraweh di masjid menjadi kewajiban bagi  sekumpulan bocah tidak tahu malu satu komplek, termasuk gue. Sewaktu sholat, jauh dari kata khusu‘, bocah-bocah malah cekikikan di shaf paling belakang, menjadi komplotan yang sering dipelototin oleh bapak-bapak yang mengisi shaf di depannya. Ulah kami tidak berhenti disitu. Jika malam itu adalah malam minggu dan ada rejeki lebih untuk dihamburkan, kami membeli mercon untuk diledakkan, entah di lapangan bola komplek atau jalan masuk ke komplek perumahan gue. Tapi, itu belum seberapa dengan ulah yang satu ini…

Masjid dan komplek perumahan gue dipisahkan oleh jalan nasional yang sering dilewati bus antarkota-antarprovinsi. Entah terlalu kreatif atau kami yang agak bego, tiba-tiba terlintas untuk pura-pura menyetop bus-bus yang lewat itu. Jadi, salah satu diantara kami berpura-pura menjadi penumpang dan menunggu “mangsa” kami kelihatan dari jauh. “Si calon penumpang” akan melambaikan tangan ketika bus mendekat. Dengan kecepatan tinggi, sopir mendadak mengerem laju bus karena mengira ada penumpang yang mau naik. Hampir bersamaan, “calon penumpang” tersebut lari ke tempat gelap di sudut lapangan bola dimana gue dan komplotan bocah lainnya sudah menunggu. Misi sukses jika kondektur misuh-misuh ngga jelas karena tahu dikerjain hahaha…Jika sedang niat, paling tidak kami bisa mendapat tiga “mangsa” dalam semalam.

Iya, masa SMP gue tidak secermelang selurus yang kalian duga :p

#myramadhanstories #day1

Nature has placed mankind under the governance of two sovereign masters, pain and pleasure. It is for them alone to point out what we ought to do, as well as to determine what we shall do.–Bentham

Kehadiran keluarga merupakan supporting system paling penting. Sebagai penyeimbang, ujarmu…

Entah apa jadinya jika sistem itu tidak hadir, dalam diri seorang pemimpin negeri sebesar Indonesia ini..

jkw-jk

Aku bersyukur melihat penyeimbang itu berdiri tegak dan setia . Bukankah dibalik seorang pria hebat ada pendamping yang jauh lebih hebat?

271014

Tak lupa untuk mengucapkan selamat bekerja untuk Jokowi-JK. Tiga puluh empat patih dan ribuan prajurit siap bertempur untuk setengah dasawarsa ke depan…

Sumber foto: disini

verba volant scripta manent, selamat hari blogger!

Oktober sudah dipertengahan jalan, akhir tahun sudah dekat. Bulan ini bukanlah suatu akhir, namun siapa tahu ini termasuk sebuah titik mula.

Kurang dari sebulan, lima kota telah mengajarkanku tentang perjalanan…

Kurang dari seminggu, hawa rumah sakit menyadarkanku tentang rasa syukur…

Kurang dari sehari, pertemuan selalu mengingatkanku tentang perpisahan…

dan kurang dari satu jam, sebait doa mengingatkanku tentang kemustahilan yang tak nyata..

 

..yang tak berdiri di atas keikhlasan akan retak jatuh di tanah–Pram

Makan Enak tapi Tetap Sehat, Emang Bisa?

Makan Prasmanan selalu menggoda “iman”! (sumber: health.detik.com)

Suatu hari di sebuah kondangan pernikahan, seorang temen tanya, “Sa, gue seneng makan banyak tapi gue pengen tetep sehat gimana ya caranya?” Sejenak gue berpikir sambil ngunyah es buah berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Gue kemudian teringat sebuah sharing di @AkberDepok tentang “Menikmati Makanan, Stop Sebelum Kenyang & Tetap Lansing”. Kelas yang dibawakan oleh Mbak Nunny Hersiana ini mengulas tiga hal utama terkait how we eat “happily” and stay healthy. Mbak Nunny menyebutnya sebagai GoLangsing #numpangpromosi

Poin pertama yang dibahas adalah mengapa berat badan bertambah? Gue sendiri termasuk orang yang gampang makan segala macam makanan. Semakin bertambah umur, gue sadar kalau pola makan dan apa yang gue makan perlu diperhatikan. Buat gue nggak masalah sedikit kelebihan berat badan asalkan badan gue tetap bugar dan sehat. Sebagai anak kos, makanan yang gue makan banyak mengandung minyak. Jelas gak sehat dong yaa. Ada satu “lingkaran setan” yang membuat berat badan seseorang naik terus kayak harga sembako (oke, abaikan ini). Cycle itu dimulai dari makan–> jadi gemuk –> stress karena kegemukan–> diet supaya ga gemuk lagi–> bosen dan menyerah karena gagal diet–> makan. Banyak sekali diantara kita yang memutuskan untuk makan bukan karena butuh namun karena dilanda kebosanan. Kadang ada lho orang yang makannya dikit tapi dia tetep gendut, selidik punya selidik ternyata dia suka ngemil makanan kecil pas dia lagi idle. Nah, itu yang biasanya membawa kita terpikir buat diet.

Eh tapi tunggu dulu, sebelum diet, kita jawab pertanyaan mengapa ingin melangsing? Kata Mbak Nunny, ternyata Diet(s) don’t work! Semakin kita menghindari makanan, semakin kita terobsesi dengan makanan tersebut. Selain itu, kebanyakan diet juga dilakukan dengan cara terpaksa dan tersiksa.

Mbak Nunny in action!

Menahan lapar memang membuat berat badan gue turun beberapa kilo sewaktu kuliah dulu. Gue baru sadar kalau menahan lapar itu bukan jurus yang jitu buat diet. Ternyata ketika kita menahan lapar maka metabolisme tubuh akan menurun. Kalau udah metabolisme menurun, kita akan ngerasa nggak bugar dan cepat capek. Cara diet yang salah itu termasuk salah satu hambatan buat yang ingin langsing dengan cara yang baik dan benar.

Terus gimana caranya buat tetep langsing dan sehat? Pertama, to be happy! Coping with the stress can be strong weapon keeping our body fit and slim. Siapa sih yang gak seneng makan (apalagi kalau dibayarin haha). Weits, bukan itu poinnya. Sebisa mungkin hindari hal-hal yang bisa membuat pikiran kita stress. Ketika makan, tanyakan pada diri kita lewat kata hati (ceilah), mengapa kita makan? Apa alasan kita makan?

Kedua, kita harus mampu membaca suasana tubuh kita. We have to eat when biologically hungry, not emotionally hungry. Hal lain yang sering tidak kita perhatikan adalah asupan gizi yang terkandung dalam makanan, terutama tingkat kalorinya. Idealnya, kalori yang terkandung dalam makanan kita paling tidak sama dengan kalori yang tubuh kita butuhkan. Orang dewasa membutuhkan rata-rata 2000-2200 kalori per hari (sumber disini). Angka tersebut tentu berbeda untuk pria dan wanita dewasa (bisa dihitung disini). Kalau mau ngitung lebih detail (dan niat), boleh dicoba pakai calorie calculator disini. Cara kita makan juga berpengaruh lho. Kita perlu merasakan makanan kita ketika mulai memasuki mulut, turun ke rongga tenggorokan, sampai ke lambung. Kalau kita makan dengan terburu-buru atau terlalu cepat mengunyah, maka biasanya kita akan cepat kenyang dan cenderung kepengen nambah, kan? Nah, cara eat less ini akan lebih ampuh kalau kita berhenti makan sebelum kita kenyang (jadi inget ajaran Nabi Muhammad nih :D)

Ayo ngaku siapa dulu waktu kecil sering dibilangin kayak gambar di atas? (gue: ngacung! haha) Sekarang sih masih sering kalau pas makan walaupun masih kenyang masih aja gue makan sampai nasinya habis. Padahal itu salah lho kata teori GoLangsing ini. Lebih baik makanan yang kebanyakan jangan dimakan daripada menjadi “sampah” di tubuh kita. Kalau bisa bilang lebih dulu sewaktu mesen makanan, misalkan sebesar apa porsi makanannya, kalau porsi nasi satu terlalu banyak buat kita, bisa dikurangin jadi setengahnya, lumayan ngurangin lemak di tubuh dan lebih hemat juga hehe..

Last but not the least, we’ve just to move more! Lebih banyak bergerak memungkinkan metabolisme tubuh kita semakin baik dan membuat tubuh kita semakin bugar. Dulu waktu kuliah gue sering jalan dari kosan ke kampus dan pas pindah kelas antarmatakuliah. Kemewahan itu yang sulit didapatkan sewaktu gue udah kerja dimana gue hampir 10 jam duduk di depan laptop. Pola makan gue nggak beda jauh jika dibandingkan sewaktu kuliah, tapi dengan intensitas gerak tubuh yang kurang akibatnya lemak jadi menumpuk. Nah, hal ini gue akalin dengan berjalan kaki sehabis pulang kerja dari kantor ke stasiun KRL terdekat yang berjarak “cukuplah-buat-nyari-keringet”. Gue mengkompensasi keterbatasan gerak dengan hampir tiap hari jalan kaki selama 20 menit. Temen sekantor bahkan ada yang tiap pulang kantor nge-gym. Gue sih gak segaul itu, cukup seminggu sekali bermain futsal dan sesekali jogging di akhir pekan keliling kampus :))

Sekian sharing dari kami, Akademi Berbagi Depok Special Ramadhan. Bagi yang berminat mengunduh bahan presentasi bisa klik link ini. Yuk Berbagi, Berbagi Bikin Happy! 🙂

Foto bersama sehabis Kelas #AkberDepokSpecialRamadhan (5 Juli 2014)