Hampir enam tahun lamanya gue harus berburu takjil baik itu membeli atau mencari di satu masjid. Esensi sharing and taking care di bulan Ramadhan sebenarnya mencerminkan  pertemuan dua keperluan, pencari  dan pemberi takjil. Pemberi takjil merupakan “sisi supply” orang-orang yang Insya Allah mendapat pahala, sedangkan pencari takjil adalah “demand side” orang-orang yang melewatkan buka bersama di rumah masing-masing. Thus, as Say said, supply creates its own demand. What a beautiful Ramadhan!

#myramadhanstories #day6

tiada nyanyi seduka jakarta
menempel pada bibir kering
menggigil oleh malaria
menyumpahi hari pengap-pesing

….

Tinggal pergulatan dalam kerja
karena darah harus mengalir
dan kehendak beribu rupa
dalam hidup kota berjuta

Ajip Rosidi–Lagu Jakarta

Dirgahayu Jakarta, tempat mengadu nasib 13 juta jiwa, kota harapan bagi masyarakat yang sudah bosan namun enggan berpulang..

#myramadhansories #day5

 Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.  Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir…

Q.S. 70 (19-21)

#myramadhanstories #day4

Seperti tahun-tahun sebelumnya sejak merantau ke Jakarta, gue selalu mengusahakan untuk membeli tiket kereta untuk pulang-pergi mudik. Kenapa kereta? Selain murah, waktu tempuh yang bisa diperkirakan membuat tiket yang dijual H-90 tanggal keberangkatan selalu ludes. Apalagi waktu itu service KAI juga sudah mulai membaik jadi orang-orang mulai mempertimbangkan mudik naik kereta api.

Circa akhir Ramadhan 1433 H, setelah menunaikan Taraweh, gue mulai berburu tiket mudik ke Solo. Seperti biasa kereta kelas ekonomi dan bisnis sudah ludes terjual, tersisa tiket kelas eksekutif yang membuat gue merogoh dompet cukup dalam jika ingin membelinya. Sebagai mahasiswa dan anak kosan dengan modal pulang kampung yang terbatas, gue mencari informasi kereta tambahan. Gue seharusnya bisa pulang lebih awal karena kegiatan perkuliahan sudah berarkhir pertengahan bulan puasa, namun kerjaan part-time di kampus membuat niatan itu harus diundur. SIngkat cerita, gue dapet info kalau KAI launching kereta ekonomi AC baru, namanya Krakatau. Kalau ngga salah ingat, waktu itu tiketnya masih 65.000, sekalian gue beli tiket bolak-balik lewat web KAI. Gue beruntung termasuk penumpang pertama yang naik kereta ini ( d^.^b )

Dari Stasiun Pasar Senen, kereta diberangkatkan persis ketika matahari di atas kepala. Untungnya, gerbong kereta yang masih kinyis-kinyis dan AC yang semriwing membuat perjalanan tidak terlalu membosankan. Perkiraan sampai stasiun tujuan akhir gue di Stasiun Jebres di Kota Solo sekitar pukul sebelas malam (ps: sekarang kereta ini tidak berhenti disana), jadi rata-rata lama perjalanan sekitar 12 jam. Untuk membunuh waktu, gue biasanya plonga-plongo di pintu kereta yang sengaja gue buka, melihat pemandangan yang tidak ditawarkan ketika kita naik moda transportasi lain. Kebetulan waktu itu juga senja mulai terlihat alias waktu maghrib akan tiba. Berbekal air minum yang sudah dibeli di stasiun, gue membatalkan puasa di atas pertemuan dua gerbong di kereta itu. Tak lama, datang sekelompok mas-mas (sepertinya cleaning service KA) yang ikut iftar disitu.

Sejenak gue liat tampilan mereka yang masih masih muda dan terdengar logat Jawa ketika mereka ngobrol, tak tahan juga gue akhirnya ngajak ngobrol mereka. Ternyata benar, umur mereka sepantaran gue! Sembari menghabiskan takjil, kami bercerita bagaimana mereka bisa bekerja di atas kereta. Mereka rupanya adalah pindahan dari kereta ekonomi sebelumnya, gue lupa apa. Alasan mereka pindah adalah insentif yang diterima dari perjalanan Krakatau ini lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dalam sebulan, setidaknya mereka hanya off sekitar seminggu, jadi jika sampai setiap hari ada dua perjalanan yang mereka harus jalanin dari Jawa Timur ke Jakarta pulang pergi, sebulan mereka bisa menghabiskan sekitar 42 kali perjalanan. Terbayang capeknya seperti apa…krakatau

Ada yang selalu bisa disyukuri dari setiap perjalanan…

#myramadhanstories #day3

Puasa tahun ini adalah puasa keenam gue jauh dari rumah. Perjuangan sebagai anak rantau selama membuat gue harus memutar otak supaya bagaimana bisa sahur dan iftar dengan lancar. Sewaktu masih tinggal di Depok, mencari takjil dan makan sahur masing lebih mudah dibandingkan sekarang. Bahkan, bukan anak kos namanya jika tidak tahu mana masjid yang sedia takjil gratis setiap hari 😀 Namun, sekarang takjil-radar sudah mulai terkikis karena terlalu malas mencari.

Seenak apapun makanannya, esensinya bukan dengan apa sahur/ berbuka, tapi dengan siapa kita menghabiskannya…

#myramadhanstories #day2

Persis setengah tahun berselang sejak tulisan terakhir diposting, blog ini lama banget ngga di-update dengan tulisan baru. Bertepatan dengan bulan Ramadhan, memori terbang jauh kembali di jaman-jaman jahiliyah gue masa SMP. Sama seperti malam kemarin, masjid-masjid di Leces sama penuhnya dengan masjid di tempat lain ketika malam Ramadhan tiba. Rutinitas menjalankan ibadah taraweh di masjid menjadi kewajiban bagi  sekumpulan bocah tidak tahu malu satu komplek, termasuk gue. Sewaktu sholat, jauh dari kata khusu‘, bocah-bocah malah cekikikan di shaf paling belakang, menjadi komplotan yang sering dipelototin oleh bapak-bapak yang mengisi shaf di depannya. Ulah kami tidak berhenti disitu. Jika malam itu adalah malam minggu dan ada rejeki lebih untuk dihamburkan, kami membeli mercon untuk diledakkan, entah di lapangan bola komplek atau jalan masuk ke komplek perumahan gue. Tapi, itu belum seberapa dengan ulah yang satu ini…

Masjid dan komplek perumahan gue dipisahkan oleh jalan nasional yang sering dilewati bus antarkota-antarprovinsi. Entah terlalu kreatif atau kami yang agak bego, tiba-tiba terlintas untuk pura-pura menyetop bus-bus yang lewat itu. Jadi, salah satu diantara kami berpura-pura menjadi penumpang dan menunggu “mangsa” kami kelihatan dari jauh. “Si calon penumpang” akan melambaikan tangan ketika bus mendekat. Dengan kecepatan tinggi, sopir mendadak mengerem laju bus karena mengira ada penumpang yang mau naik. Hampir bersamaan, “calon penumpang” tersebut lari ke tempat gelap di sudut lapangan bola dimana gue dan komplotan bocah lainnya sudah menunggu. Misi sukses jika kondektur misuh-misuh ngga jelas karena tahu dikerjain hahaha…Jika sedang niat, paling tidak kami bisa mendapat tiga “mangsa” dalam semalam.

Iya, masa SMP gue tidak secermelang selurus yang kalian duga :p

#myramadhanstories #day1