Atlantis yang Hilang dan Indonesia

Menurut pakar geologi serta ilmuwan fisika nuklir asal Brazil Prof. Asyrio Santos, benua yang hilang Atlantis ternyata terletak di Indonesia. Hal ini tentu saja menarik untuk dikaji lebih jauh khususnya oleh masyarakat Indonesia sendiri. Konon, masyarakat Atlantis memiliki peradaban tinggi pada masa itu, sangat kontras jika dibandingkan dengan keadaan masyarakat Indonesia dekade ini. Dengan menunjukkan berbagai macam bukti ilmiah yang meyakinkan, Prof. Asyrio percaya bahwa di dasar landas kontinen Indonesia ada benua yang sejak lama hilang ditelan bumi.

Menurut Prof. Asyrio, penyebab utama tenggelamnya benua Atlantis adalah ledakan dahsyat Gunung Krakatau yang meyebabkan Pulau Sumatra dan Pulau Jawa yang dulunya menyatu menjadi terpisah sehingga permukaan benua Atlantis terendam air tsunami tersebut. Abu yang dihasilkan letusan tersebut juga banyak dan berterbangan sampai ke kutub selatan yang menyebabkan suhu disana naik sehingga mencairkan es yang berada di kutub utara tersebut. Mencairnya es itu menyebabkan permukaan yang sudah tertutupi air menjadi lebih tenggelam.

Pernyataan Prof. Asyrio dalam bukunya Atlantis, The Lost City Finally Have Found tersebut memang masih sebatas teori. Namun demikian,  pertanyaannya sekarang adalah jika memang teori-teori itu benar menyebutkan jika Indonesia adalah Atlantis yang hilang, seharusnya kemampuan peradaban masyarakat Indonesia tidak kalah dengan bangsa-bangsa yang juga memiliki tingkat peradaban tinggi dan tidak boleh kalah bersaing dengan negara yang memiliki peradaban tinggi lainnya.

Kondisi Timnas dan Pencalonan pada Piala Dunia 2022

Kekalahan 0-2 Timnas sepak bola Indonesia dari Oman pada tanggal 6 Januari 2010 di Gelora Bung Karno mengakhiri perjuangan Indonesia untuk masuk ke babak putaran final Piala Asia 2011 di Qatar. Hal ini juga menghentikan sejarah Indonesia yang selalu lolos babak putaran final sejak tahun 1996. Evaluasi menyeluruh harus dilakukan di tubuh PSSI sebagai induk sepak bola nasional akibat kekalahan memalukan di kandang sendiri. Ini juga berkaitan dengan pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 mendatang. Apakah pantas Indonesia berlaga dan bersaing dengan negara-negara adidaya sepak bola apabila di tingkat Asia bahkan Asia Tenggara saja Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa.

Dalam pertandingan tersebut, pihak penyelenggara juga kecolongan dengan masuknya ‘pemain’ ke-23 ke dalam lapangan. Ini membuktikan bahwa Indonesia belum siap betul dalam penyelenggaraan event sebesar Piala Dunia. Bagaimana akan mengatur hooligans bengal dari Inggris apabila mengawasi penonton negara sendiri saja tidak mampu. Waktu 12 tahun bukan waktu yang lama bagi masyarakat Indonesia secara umum untuk mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia karena yang perlu dibenahi dari penonton maupun pemain timnas kita adalah mental dan motivasi.

Upaya pencalonan tuan rumah Piala Dunia memang harus kita apresiasi, namun PSSI juga harus realistis dengan kondisi pesepakbolaan negeri ini serta belum dewasanya penonton Indonesia serta pesaing-pesaing yang memiliki tim sepak bola dan infrastruktur yang memadai untuk menggelar event sebesar Piala Dunia. Selain itu, pencalonan ini juga memakan biaya yang tidak sedikit. Akan lebih baik dana pencalonan tersebut digunakan untuk pembinaan pesebakbola junior negara ini.

Peran Serta Wanita dalam Islam

Tulisan ini dibuat dalam rangka hari ibu tahun lalu untuk mading FSI FEUI

Di zaman modern seperti saat ini,perbedaan antara pria maupun wanita sudah mulai bias. Islam menjunjung tinggi derajad serta memberi petunjuk bagaimana wanita bertindak. Menurut Islam, ada berbagai hal yang membedakan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Hak dan kewajiban wanita yang sama dengan pria adalah dalam hal pendidikan, ibadah, sedekah, kebebasan mengeluarkan pendapat, keikutsertaan dalam jihad, kebebasan memilih suami, hak mengasuh anak, serta keikut sertaan untuk mengikuti amar ma’ruf nahi munkar. Di sisi lain, ketidaksamaan hak dan kewajiban pria dengan wanita antara lain dalam hijab, poligami, warisan, dhiyat, persaksian, perceraian, hak untuk berdagang dan mencari pekerjaan, dan wanita sebagai penguasa. Peran serta wanita bisa dilihat dari lingkungan yang terkecil yaitu di lingkungan keluarga. Seorang ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya sebagai peletak pondasi keimanan serta kehidupan di masa depan. Kewajiban ibu adalah mendidik anaknya sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Perilaku ibu juga akan diikuti anak di kemudian hari. Apabila perilaku ibu tidak Islami, maka anaknya pun akan memiliki perilaku yang tidak Islami pula. Bahkan, pendidikan anak yang diberikan oleh sang ibu dimulai sejak dalam kandungan. Janin yang ada di dalam kandungan bisa merasakan perasaan ibunya. Jika si ibu sedih, maka janin juga ikut merasakan kesedihan, dan sebaliknya. Sebagai seorang istri, kewajiban wanita adalah menjaga keharmonisan rumah tangganya. Seorang suami yang shaleh kebanyakan memiliki istri yang shalihah. Tidak sedikit suami yang dulunya kurang baik sebelum beristri menjadi lebih baik ketika menemukan istri yang shalihah. Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21). Kemudian, wanita juga dapat berperan dalam kemajuan suatu negara dengan cara berdakwah dan/ atau berjihad. Jumlah wanita di dunia ini lebih banyak dari pada jumlah laki-laki. Bila potensi ini tidak diarahkan dan dididik dengan baik, ia akan menjadi penghancur masyarakat, negara bahkan dunia. Suatu masyarakat dikatakan berhasil, bila wanitanya berakhlak mulia. Wanita bagaikan mahkota, bila mahkota baik, maka seluruhnya akan kelihatan cantik dan bagus. Tapi bila mahkotanya rusak, maka yang lain pun tidak ada artinya apa-apa. Adalah Ummu Syarik, setelah masuk Islam, beliau mendakwahi wanita-wanita Qurasiy secara diam-diam dan mengajak mereka menerima Islam. Zainab Al- Ghazali adalah di antara figur wanita modern penerus Ummu Syarik. Meskipun wanita dibolehkan keluar rumah -khususnya berdakwah- namun tetap ada batasan-batasan seputar pakaian: • Pakaian harus menutup seluruh anggota tubuh, kecuali wajah dan telapak • Tangan (dalam hal ini para ulama berbeda pendapat). • Pakaian tidak menarik perhatian. • Pakaian tidak sempit. • Tidak pendek bagian bawahnya. • Tidak beraroma minyak wangi. • Tidak menyerupai pakaian laki-laki, karena Rasulullah melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki. • Tidak memakai pakaian dengan maksud agar terkenal di antara manusia. Peran serta wanita dalam hal jihad dapat kita simak dari masa Nabi. Ketika perang Yarmuk, Khalid bin Walid sebagai panglimanya menugaskan wanita, diantaranya Khansa`, untuk berbaris di belakang barisan laki-laki, tapi jaraknya agak jauh sedikit. Tugas mereka adalah menghalau prajurit laki-laki yang melarikan diri dari medan perang. Mereka dibekali pedang, kayu, dan batu. Shafiyah binti Abdul Muthalib juga pernah membunuh seorang Yahudi pengintai. Dan banyak lagi contoh-contoh yang nyata yang dapat menjadi suri tauladan bagi kita. Seiring zaman yang semakin modern sekarang dan kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, wanita dapat berperan serta untuk memajukan negara dengan mengamalkan ilmunya untuk tanah air. Dunia adalah perhiasan Dan perhiasan yang terindah adalah Wanita shalihah (hadis) *0906490582

Referensi penulis. 1. The Rights and Duties of Women in Islam, Syaikh Abdul Gaffar Hasan, http://www.raudhatulmuhibbin.org

2. Peran Wanita dalam Islam,Ummu Muhammad, islamhouse.com. 3. Artikel http://www.muslimah.or.id.

Sepatah Kata tentang Hidup

2 September 2010, 7:36 PM waktu laptop

Sudah lebih dari satu setengah tahun aku merantau di “tanah” orang, berpeluh keringat  demi meraih cita-cita, dan juga masa depan.  Lebih dari setahun hidup seorang diri, kadang kala termenung sendirian di kamar ukuran 3×2,5 meter. Termenung, bukan melamun. Mengingat masa-masa yang dulu pernah lewat dan akan terlewati. Selalu berpikir hidup ini terlalu singkat. Hidup terlalu disia-siakan, bagi orang-orang yang tidak mengerti bahwa terlalu kejam untuk mereka yang menyia-nyiakannya. Hidup itu pilihan, hidup itu perjuangan. Berjuang untuk memilih, memiih untuk berjuang. Sama saja.

Hidup itu singkat, kawan! Percayalah! Hari ini, jam 9 pagi, kawan satu angkatanku baru saja dipanggil sang Kuasa untuk menghadap-Nya. Sungguh, aku kaget benar setelah tahu dia pergi begitu cepat. Baru kemarin dia duduk dibelakangku di mata kuliah sistem  ekonomi, berbaris dibelakangku untuk membentuk kelompok bersama. Baru kemarin rasanya, dia memintaku untuk belajar bersama mata kuliah matematika ekonomi lanjutan bersamaku, dengan senang hati aku belajar bersamanya di asrama, sampai waktu itu pukul 9 malam. Aku masih ingat betul. Selamat jalan, kawan. Meskipun kita baru satu tahun kenal, entah mengapa memori yang melekat kuat, dipikiranku. Selamat jalan , kawan. Semoga engkau mendapat tempat yang baik disana J

Hmm, hidup itu untuk berjuang. Berjuang untuk hidup. Tak ada gading yang tak retak memang, tapi setidaknya kita bisa menutupinya..

Satu tahun terasa begitu cepat. Entah mengapa, apa aku yang berpikir seperti itu atau waktu memang berjalan begitu cepat sehingga kita lalai karenanya.

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang ysng beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (Q.S. 103, 1-3)

Kadang kala setiap kali melihat ke atas, kita lupa bahwa masih ada orang-orang dibawah kita. Nikmat yang diberikan-Nya terkadang terasa kurang, rupanya. Kadang kala, kalau kita lupa tujuan hidup kita ini apa, dunia akan mempermainkan kita. Hidup memang kejam, kawan! Percayalah!

Hidup itu untuk memilih. Memilih untuk hidup. Hahahaa..

Kenapa ya harus memilih? Andaikan hanya ada satu pilihan, tentunya lebih gampang tentunya. Andaikan hanya ada SATU pilihan. SATU.

Terlalu sulit, terlalu ribet. Sudah ah. Aku saat ini hanya ingin sendiri, menikmati kehidupan, menjelajahi belahan lain dunia, melihat hasil karya-Nya yang tersembunyi di suatu tempat, seorang diri.

Tapi apakah tidak lebih indah jika ada seseorang disamping kita yang menemani perjalanan kita?

Sudahlah, itu ada waktunya, kawan! Tidak sekarang, mungkin di lain waktu.  Sendiri itu bukan berarti buruk, sendiri itu tidak berarti jelek. Bebas.

Aku ucapkan selamat untuk orang yang dulu pernah MEMILIH untuk lebih memikirkan KESENDIRIANNYA. Pilihan Anda TEPAT SEKALI ! Aku merasa NYAMAN sekarang.