Masih terlalu banyak kaum munafik yang berkuasa.  Orang yang pura-pura suci dan mengatasnamakan Tuhan.

Merintih kalau ditekan, namun menindas kalau berkuasa…

Soe Hok Gie

10/03/14, about 9 a.m., at office.

Salah Satu Ibu di Kantor (SSIdK): Eh Elsa, kamu cukur ya, pangling saya.
Elsa (E): hehe iya Bu, biar keliatan rapi.
SSIdK: Anak saya yang cowok juga udah panjang rambutnya, udah saya suruh cukur ke salon tapi dia nggak mau, mintanya dicukur sama saya..
E: Loh kok gitu Bu?
SSIdK: Iya, soalnya saya pulangnya malem terus…

Suddenly, I miss the moment when my versatile mom shaved my hair :’)

Kebijakan Cerdas?

Berita ini dicuplik dari Kompas.com. Lihat kalimat yang gue tegaskan (bold) pada berita di bawah.

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengumpulkan semua pegawai negeri sipil eselon III dan eselon IV di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Balai Agung, Jakarta, Senin (10/3/2014) pagi. 
Jokowi marah akibat banyak perintahnya yang tidak dikerjakan dengan baik. Jokowi memaparkan sejumlah temuan soal persoalan di Ibu Kota yang ditemukan selama dia blusukan ke lapangan melalui foto-foto. 
Beberapa di antaranya adalah pembangunan bedeng proyek yang tidak sesuai standar, permukiman kumuh di kolong jalan tol, hingga corat-coret di fasilitas umum. 
“Bedeng itu tidak menunjukkan bahwa kita itu ada di Jakarta. Standarnya ada, warnanya jelas, tapi kok ya masih begini terus. Dibuat yang jelas,” ujar Jokowi dengan nada tinggi. 
“Tahun kemarin saya sudah peringatkan, tapi masih begini juga. Tahun ini saya ndak mau lagi,” lanjut Jokowi. 
Jokowi kemudian berlanjut ke foto kedua, yakni menjamurnya permukiman di kolong tol. Jokowi menegaskan, hal itu bukan hanya urusannya, melainkan juga urusan para pejabat eselon III dan eselon IV yang tersebar di dinas atau suku dinas. 
“Itu lapangan bapak dan ibu semuanya. Kalau ada satu muncul, ya cepat bersihkan. Jangan sampai ada orang berbondong-bondong datang menempati lagi,” lanjutnya. 
Selanjutnya, Jokowi menunjukkan foto-foto fasilitas umum yang penuh dengan corat-coret. Jokowi menegaskan kepada para PNS agar mereka segera membereskan persoalan tersebut
Jokowi mengatakan, Ibu Kota harus dikelola dengan profesional sehingga tindak pelanggaran bisa diminimalisasi. 
“Kita coba main kuat-kuatan saja sama yang corat-coret. Coret hapus, coret hapus, coret hapus, terus saja. Coba lihat saja kuatan mana. Masa anggaran DKI kalah sama anak-anak yang suka corat-coret itu,” lanjutnya. 
Pantauan Kompas.com, pengarahan itu mulai pukul 11.00 WIB. Pengarahan yang diikuti ratusan PNS eselon III dan IV yang berada di bawah koordinasi Asisten Pembangunan dan Asisten Perekonomian itu tampak serius mendengar pengarahan Gubernur.

*****

Apa yang menarik dari berita di atas? Pak Jokowi ingin membenahi fasilitas umum (fasum) yang dicorat-coret. Bagus juga kebijakan terkait dengan pengaturan supaya fasum bersih dan terawat sehingga masyarakat merasa nyaman untuk menggunakannya. Namun, lihat kalimat yang ditegaskan pada bagian selanjutnya. Menurut gue, kebijakan coret hapus-coret hapus bukan salah satu kebijakan yang efektif untuk menghentikan aksi vandalisme itu. Entah fasum apa yang dimaksud tapi ada beberapa pemikiran yang terlintas di otak gue. Gue mikirnya sih, kenapa Bapak Gubernur yang Terhormat tidak memberikan izin buat seniman jalanan merombak ruang kosong sebagai “kanvas publik”. Ada dua keuntungan buat pemerintah. Pertama, seniman-seniman bisa mendapatkan tempat gratis untuk menumpahkan kreasi dan ide yang mereka miliki. Contohnya adalah street mural.

Salah satu contoh Street Mural. Banyak hikmah dari setiap karya seni. Klik untuk menuju ke sumber gambar

Seniman street mural memerlukan ruang gambar yang cukup besar untuk berkarya. Di sisi lain, banyak dinding terutama di bawah kolong jembatan layang di Jakarta yang bisa dijadikan tempat berkreasi mereka. Beberapa seniman mural tersebut juga nekad melukis dinding-dinding tersebut walaupun tak lama kemudian Satpol PP mengecat dinding tersebut. Kalau karya mereka cukup sedap dipandang mata, Pemprov juga terbantu sehingga Jakarta akan terlihat semakin indah dan manusiawi. Banyak pesan moral yang berusaha disampaikan oleh seniman itu, memunculkan kembali sisi humanisme masyarakat Jakarta yang sudah mulai hilang.*no offense*

Kedua, dari sisi anggaran pemerintah *mentang-mentang gue anak ekonomi :p*, kebijakan ini akan sangat costly karena apa yang disampaikan Pak Jokowi (coret hapus-coret hapus) bukanlah kebijakan preventif. Mengutip peribahasa esa hilang dua terbilang atau mati satu tumbuh seribu. Anggaran Pemprov Jakarta memang mencapai trilyunan rupiah, namun gue kira anggaran sebanyak itu kurang bijak untuk dihabiskan agar aksi vandalisme di Jakarta hilang. In my humble opinion, dengan alokasi yang sama atau bahkan lebih kecil, Pemprov bisa membelikan alat-alat gambar buat seniman itu disamping memberikan ruang lukis yang memadai dan dapat dialokasikan ke sektor yang lebih membutuhkan. Sekali dayung, dua tiga permasalahan teratasi :D

Sekian.

Kalau Ndoro seneng iseng melihat wajah orang-orang frustasi dibalik setir kemudi mereka, gue pun juga punya kebiasaan yang sama. Bedanya, kalau Ndoro melihat dari balik mobil, gue dari atas motor.

Beberapa hari terakhir gue coba naik motor dari kosan ke kantor. Setiap kali jalanan lagi padet atau di sela menunggu lampu hijau menyala dari traffic light, gue iseng melihat mobil-mobil yang gue lewati. Mobil-mobil kelas menengah yang dikendarai orang-orang kelas menengah kebanyakan diisi satu atau dua orang. Kesel gue ngeliatnya..

Kenapa gue kesel? Pertama, mereka bikin macet! Jujur gue belum pernah nyoba nyopir mobil di Jakarta. Di bayangan gue, nyetir mobil di tengah kemacetan frustasinya minta ampun. Hitung-hitungan sotoy gue, satu mobil sedan itu ekuivalen sama enam motor. Let’s say di Jakarta, satu motor kebanyakan dinaiki oleh dua orang, sedangkan mobil paling pol cuma diisi tiga orang. Argumen ini yang gue pakai buat membela diri kalau ada pengendara mobil suka nyalahin motor sebagai biang macet hehe. Kedua, buang-buang bahan bakar! Coba cek gambar di bawah yang gue ambil dari sini.

Pilih yang mana?

Well, jarak tempuh kosan-kantor sekitar 24,1 km biasanya gue tempuh dalam 1,5 jam kalau lagi jam-jam macet. Coba tebak berapa bensin yang gue habisin buat bolak-balik dalam empat hari ini? UDAH Rp50.000! Hitungan kasarnya, satu bulan ada empat minggu, setahun ada 48 minggu jadi (4 hari*4 minggu * 12 bulan * 50.000)=Rp9.600.000 setahun biaya bensin yang gue keluarin. Belum lagi kalau mau ngitung biaya stres akibat macet, kecelakaan, atau sakit akibat ujan-ujanan, pasti lebih mahal. Oiya, gue pake motor H*nda NSX 125.

Poinnya, mulai pakai public transportation! :)

Gue hari ini mulai pakai kereta, it’s much much better than using my motorcycle at all! Murah dan gak capek. Namun, satu hal yang bikin gue males naek kereta adalah seringnya gangguan yang muncul apalagi kalau AC/ kipas angin di kereta gak dingin dan penumpang udah kayak pepes (penuh dan dempet-dempetan). Kita lihat apakah minggu depan akan konsisten naik kereta lagi :)