Seperti tahun-tahun sebelumnya sejak merantau ke Jakarta, gue selalu mengusahakan untuk membeli tiket kereta untuk pulang-pergi mudik. Kenapa kereta? Selain murah, waktu tempuh yang bisa diperkirakan membuat tiket yang dijual H-90 tanggal keberangkatan selalu ludes. Apalagi waktu itu service KAI juga sudah mulai membaik jadi orang-orang mulai mempertimbangkan mudik naik kereta api.

Circa akhir Ramadhan 1433 H, setelah menunaikan Taraweh, gue mulai berburu tiket mudik ke Solo. Seperti biasa kereta kelas ekonomi dan bisnis sudah ludes terjual, tersisa tiket kelas eksekutif yang membuat gue merogoh dompet cukup dalam jika ingin membelinya. Sebagai mahasiswa dan anak kosan dengan modal pulang kampung yang terbatas, gue mencari informasi kereta tambahan. Gue seharusnya bisa pulang lebih awal karena kegiatan perkuliahan sudah berarkhir pertengahan bulan puasa, namun kerjaan part-time di kampus membuat niatan itu harus diundur. SIngkat cerita, gue dapet info kalau KAI launching kereta ekonomi AC baru, namanya Krakatau. Kalau ngga salah ingat, waktu itu tiketnya masih 65.000, sekalian gue beli tiket bolak-balik lewat web KAI. Gue beruntung termasuk penumpang pertama yang naik kereta ini ( d^.^b )

Dari Stasiun Pasar Senen, kereta diberangkatkan persis ketika matahari di atas kepala. Untungnya, gerbong kereta yang masih kinyis-kinyis dan AC yang semriwing membuat perjalanan tidak terlalu membosankan. Perkiraan sampai stasiun tujuan akhir gue di Stasiun Jebres di Kota Solo sekitar pukul sebelas malam (ps: sekarang kereta ini tidak berhenti disana), jadi rata-rata lama perjalanan sekitar 12 jam. Untuk membunuh waktu, gue biasanya plonga-plongo di pintu kereta yang sengaja gue buka, melihat pemandangan yang tidak ditawarkan ketika kita naik moda transportasi lain. Kebetulan waktu itu juga senja mulai terlihat alias waktu maghrib akan tiba. Berbekal air minum yang sudah dibeli di stasiun, gue membatalkan puasa di atas pertemuan dua gerbong di kereta itu. Tak lama, datang sekelompok mas-mas (sepertinya cleaning service KA) yang ikut iftar disitu.

Sejenak gue liat tampilan mereka yang masih masih muda dan terdengar logat Jawa ketika mereka ngobrol, tak tahan juga gue akhirnya ngajak ngobrol mereka. Ternyata benar, umur mereka sepantaran gue! Sembari menghabiskan takjil, kami bercerita bagaimana mereka bisa bekerja di atas kereta. Mereka rupanya adalah pindahan dari kereta ekonomi sebelumnya, gue lupa apa. Alasan mereka pindah adalah insentif yang diterima dari perjalanan Krakatau ini lebih besar dibandingkan sebelumnya. Dalam sebulan, setidaknya mereka hanya off sekitar seminggu, jadi jika sampai setiap hari ada dua perjalanan yang mereka harus jalanin dari Jawa Timur ke Jakarta pulang pergi, sebulan mereka bisa menghabiskan sekitar 42 kali perjalanan. Terbayang capeknya seperti apa…krakatau

Ada yang selalu bisa disyukuri dari setiap perjalanan…

#myramadhanstories #day3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s