Urgensi Pemilih Muda dalam Pemilu 2014: Sebuah Ulasan

Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 tinggal hitungan bulan. Bagi para pemain politik, hal tersebut tentu saja bukanlah waktu yang panjang untuk mempersiapkan pesta demokrasi empat tahunan ini. Bayangkan saja, 150 juta orang (yang jumlahnya sekitar setengah dari rakyat Indonesia) diprediksi mengikuti pesta akbar ini. Tak kurang dari sekitar 50 juta orang merupakan pemilih muda potensial dimana jumlah pemilih yang berumur 10–20 tahun berjumlah 46 juta dan pemilih berumur 20 – 30 tahun berjumlah 14 juta orang. Dinamika konstelasi politik negara ini menjelang Pemilu 2014 patut dicermati, khususnya bagaimana partai politik (parpol) menjaring pemilih potensial. Tulisan ini mencoba untuk mengulas bagaimana strategi parpol dalam menyiapkan pertarungan empat tahunan ini secara umum dan langkah parpol dalam menggali dukungan dari pemilih muda secara khusus.

Parpol mana yang akan dipilih oleh masyarakat pada Pemilu tahun depan? Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Golkar menduduki urutan pertama dengan perolehan suara 22,2%, naik 9% dibandingkan dengan perolehan suara pada pemilu 2009. Perolehan suara PDIP dalam survei ini mirip dengan perolehan partai itu pada pemilu 2004 yaitu 18,53%. Partai Demokrat di urutan ketiga dengan 11,7%, Gerindra 7,3%, Partai NasDem 4,5%. PKB, PPP, PAN, dan PKS masing-masing menyusul dengan 4,5%, 4%, 4%, dan 3,7%. Sedangkan Hanura berada di posisi terakhir dengan 2,6%.

Isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) menyebabkan elektabilitas partai incumbent tidak begitu popular sekarang. Mengutip pernyataan LSI bahwa “menaikkan BBM merupakan musibah politik” mungkin ada benarnya. Perubahan harga BBM dan penyaluran danatunai sebagai kompensasi besar pengaruhnya terhadap naik turunnya dukungan publik. Pemerintah maupun partai politik tak mau dicap sebagai pembuat kebijakan yang tidak “pro rakyat”. Logika sederhana rakyat adalah BBM yang murah dan kompensasi bagi warga miskin adalah kebijakan pro rakyat. Jika sebaliknya,maka kebijakan tersebut dianggap tidak pro rakyat. Hal ini pula yang menjadi perhatian cukup penting bagi pemilih muda yang notabene memiliki pendapat yang kritis mengenai kenaikan BBM. Di satu pihak, terdapat argumen bahwa kenaikan BBM itu perlu karena selama ini subsidinya salah sasaran, di pihak lain kenaikan BBM akan menimbulkan masalah sosial-ekonomi di masyarakat. Masalah subsidi BBM serta pemberian Bantuan Langsung Sementara Masyarakat menjadi topik yang dapat membuat rating parpol berubah.

Berbicara tentang politik di Indonesia terutama melihat bagaimana elektabilitas seorang calon yang diusung oleh partai politik di mata para pemilih pemula, tentu saja terkait dengan siapa diusung oleh parpol mana. Isu populis yang menjadi concern dari pemilih muda adalah perbaikan citra parpol yang sebagian besar politisinya tersangkut masalah KKN baik di tingkat pusat maupun di beberapa daerah. Hasil survei yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Nasional (LSN) menyebutkan, dalam memilih calon presiden menurut hasil survei itu mayoritas pemilih pemula (46,4%) mengutamakan kemampuan capres dalam memecahkan masalah.Selain itu rekam jejak dan program kerja juga dipertimbangkan oleh pemilih muda. Isu strategis yang menjadi concern pemilih dapat terkait dengan masalah gender serta faktor primordial (suku, agama, dan ras). Menurut hasil penelitian LSN, faktor ini cukup signifikan mempengaruhi voting behavior pemilih pemula. LSN menanyakan mengenai latar belakang suku capres dan hasil survei menunjukkan bahwa bagian terbesar responden (41,3%) tidak mempermasalahkan latar belakang suku calon presiden.

Latar belakang dari pemilih muda didominasi oleh kalangan pelajar SMA sampai mahasiswa perguruan tinggi. Umumnya perilaku mereka penuh dengan idealisme, emosional, meledak-ledak, lebih rasional dalam berpikir, dan haus akan perubahan. Pemilih pemula merupakan kelompok pemilih yang cerdas, melek politik, dan sulit ditebak. Beberapa calon pemilih telah terikat pada afiliasi badan atau organisasi tertentu dimana keputusan mereka tidak akan banyak berubah. Mereka cenderung untuk tetap memilih partai politik yang dekat dengan afiliasi mereka. Hal yang berbeda terjadi pada pemilih pemula dan pemilih muda. Media massa terutama social media berperan penting.

Partai politik mempersiapkan beberapa strategi dalam menjaring pemilih pada pemilu 2014 mendatang. Disamping mempersiapkan program kerja, visi-misi, serta kapabilitas dari calon, beberapa parpol baik yang berideologi nasionalis-kebangsaan sampai keagamaan memperkuat basis massa lewat organisasi kepemudaan bentukan masing-masing partai. Calon anggota legislatif yang relatif berusia muda dipasang oleh beberapa parpol untuk menjaring pemilih pemuda. Isu populis yang menjadi “jualan” dari setiap kali pemilu yakni masalah lapangan pekerjaan, kemiskinan, pembangunan infrastruktur, dan pendidikan-kesehatan. Isu gender juga menjadi perhatian penting. Strategi masing-masing partai politik dalam menjaring pemilih di segmen ini yaitu dengan memasang calon-calon yang mewakili segmen tersebut. Pemilih muda cenderung untuk tidak langsung diajak untuk aktif dalam suatu partai untuk menyalurkan aspirasi mereka. Partai politik memanfaatkan organisasi kepemudaannya untuk menyerap aspirasi kalangan pemilih muda dan menyalurkan ideologi partai mereka lewat medium tersebut.

Gambar

Oleh sebab itu, hendaknya parpol luwes dalam berkampanye untuk menjaring suara pemilih muda ini. Adanya tokoh muda dalam pencalonan caleg maupun presiden membuat pemilih muda yang sebelumnya apatis menjadi ingin terlibat dalam proses pemilihan. Kita harap politik yang sebelumnya menjadi hal yang kedengarannya “kotor” di mata pemuda berubah menjadi hal penting di kemudian hari. Masa depan bangsa ini ada di tangan pemuda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s