Majulah BUMN-ku! (Tantangan dan Solusinya di Masa Depan)

GambarBerbicara tentang Badan Usaha Milik Negara, tentu saja kita harus melihat sekilas perkembangan sejarahnya. Organisasi Pemerintah yang memiliki Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) melaksanakan pembinaan terhadap Perusahaan Negara/Badan Usaha Milik Negara di Republik Indonesia telah ada sejak tahun 1973. Awalnya, organisasi ini merupakan bagian dari unit kerja di lingkungan Departemen Keuangan Republik Indonesia sampai 1998. Mengingat peran, fungsi dan kontribusi BUMN terhadap keuangan negara sangat signifikan, maka sejak tahun 1998, pemerintah Republik Indonesia mengubah bentuk organisasi pembina dan pengelola BUMN menjadi setingkat Kementerian. Awal dari perubahan bentuk organisasi tersebut terjadi di masa pemerintahan Kabinet Pembangunan VII, dengan nama Kementerian Negara Pendayagunaan BUMN/Kepala Badan Pembinaan BUMN. Menteri pertama yang bertanggung jawab atas pendayagunaan BUMN tersebut adalah Bapak Tanri Abeng. Pada masa ini sempat digagas tentang BUMN Incorporated, sebuah bangun organisasi BUMN berbentuk super holding[1].

Jika diibaratkan umur manusia, memasuki umur tiga puluh tahun merupakan masa keemasan dimana puncak produktifitas memasuki titik optimumnya. Namun, menilik kinerja BUMN Indonesia di tingkat global saat ini, tidak ada satupun perusahaan BUMN Indonesia yang masuk ke dalam 500 besar perusahaan terkaya di dunia, sementara perusahaan BUMN asal Malaysia (Petronas), SIngapura (SingTel), dan Thailand (PTT PCL), bisa masuk ke jajaran 200 terbaik[2]. Kita sepatutnya memberikan apresiasi kepada enam BUMN yang masuk dalam Forbes Global 2000 tahun 2012, yaitu BRI, Mandiri, Telkom, BNI, PGN dan Semen Gresik. Prestasi ini tentunya masih tertinggal dibandingkan dengan BUMN Negara tetangga ataupun perusahaan swasta yang beroperasi di Indonesia. Salah satu permasalahan yang menerpa BUMN terkait tidak optimalnya kinerja BUMN Indonesia salah satunya adalah budaya korporasi dan kepemimpinan. Dengan tidak mengesampingkan permasalahan lainnya, kedua hal tersebut perlu mendapatkan perhatian untuk mengoptimalkan kinerja BUMN. Salah satu solusinya yaitu melakukan restrukturisasi. Restrukturisasi dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar dapat beroperasi secara efisien, tranparan dan professional. Program restrukturisasi bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada Negara, menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen[3].

Gambar

Budaya birokrasi dan kepemimpinan merupakan dua hal yang saling terkait. Budaya korporasi yang njelimet, tidak efisien, serta pengambilan keputusan strategis yang birokratis membuat sebuah BUMN tidak bisa “berlari” kencang. Para direksi BUMN, termasuk direktur utamanya, hari itu mengenakan baju yang biasa dipakai pegawai golongan terendah di masing-masing BUMN. Ini sebuah simbol bahwa direksi BUMN harus siap meninggalkan kemewahan yang berlebihan mengingat BUMN harus lebih efisien, bersih, dan menjadi contoh untuk lokomotif pertumbuhan[4]. Kemudian contoh lain adalah mengadakan rapat yang placeless. Pengambilan keputusan pun dapat dilakukan dengan cepat dan costless karena diadakan lewat media Blackberry Messenger! Para petinggi BUMN kurang mampu berinovasi dan keluar dari pakem yang ada. Tradisi lama tetap dipertahankan yang berakibat pada rutinitas monoton yang dilakukan sampai level pegawai paling rendah, menyebabkan tidak optimalnya kinerja BUMN.

Terkait dengan kepemimpinan yang dapat mengubah situasi suatu BUMN, contoh sederhana yang dapat kita ambil adalah maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Sebelum ditangani oleh Emirsyah Satar, perusahaan tersebut merugi besar. Namun, terhitung delapan tahun sejak mengemban amanah menjadi Direktur Utama Garuda, secara mengejutkan, saat ini perusahan tersebut sudah lebih besar dari Malaysia Airlines (MAS) dan Thai Airways, Thailand. Bahkan Garuda Indonesia sudah lebih besar dari Air France! Nilai Garuda kini sudah mencapai Rp 18 triliun. Sudah sekitar Rp 1 triliun lebih besar dari MAS dan Thai Airways[5]. Pemimpin yang visoner, yang mampu menyelaraskan visi, misi, tujuan strategi dan mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kebijakan perusahaan. Pemimpin yang baik juga harus mampu berkomunikasi dengan karyawan di tingkat manapun. Komunikasi yang berjalan dengan baik akan membuat revolusi budaya birokrasi yang njelimet dapat diatasi. Komunikasi yang baik juga harus dilakukan kepada masyarakat sebagai salah satu stakeholder oleh direktur BUMN apabila terkait dengan corporate action. Satu contoh kurang mulusnya komunikasi (jika tidak ingin disebut “gagal”) adalah keributan pedagang kaki lima dengan aparat keamanan di beberapa stasiun di Jabotedabek beberapa waktu lalu.

Paparan menandakan bahwa langkah-langkah restrukturisasi yang semakin terarah dan efektif terhadap orientasi dan fungsi BUMN sudah terlihat. Langkah restrukturisasi ini dapat meliputi restrukturisasi manajemen, organisasi, operasi dan sistem prosedur. Selain itu, pemantapan penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG), yaitu transparansi, akuntabilitas, keadilan dan responsibilitas pada pengelolaan BUMN PSO maupun BUMN komersial juga semakin terlihat. Langkah pemetakan BUMN yang ada ke dalam kelompok BUMN public service obligation (PSO) dan kelompok BUMN komersial (business oriented), sehingga kinerja BUMN tersebut dapat meningkat dan pengalokasian anggaran pemerintah akan semakin efisien dan efektif, serta kontribusi BUMN dapat meningkat (BAPPENAS, 2004)[6].

Suatu inovasi yang telah dilakukan adalah merekrut generasi muda untuk menduduki posisi tertinggi di beberapa BUMN. Kenaikan upah menjadi salah satu pintu masuk untuk menyeleksi dan menyaring tenaga kerja berkualitas.[7] Namun, mengubah mindset generasi muda (baca: mahasiswa) saat ini  sebagai calon penerus Chief Executive Officer (CEO) BUMN di negeri ini tidak mudah. Di berbagai kampus tentu mahasiswanya dibekali dengan ilmu kepemimpinan maupun kewirausahaan yang cukup sebagai bekal nantinya. Di samping itu, tidak ada salahnya jika BUMN menjemput bola untuk merekrut potensi-potensi generasi muda langsung ke kampus. Alangkah sayangnya jika potensi ini terlepas dan malah “diperas” oleh perusahaan multinasional asing. Seratus empat puluh satu BUMN bukanlah angka yang kecil. Pasti ada kesempatan. Pertanyaannya, maukah kita, mahasiswa, memanfaatkan kesempatan itu?

Gambar

Depok, 10 Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s