Optimisme di Kalangan Pemuda Saat Ini

Bulan Mei hampir mencapai penghujung waktunya. Jika flashback sekilas, kita telah melewati dua hari penting; Hari Pendidikan Nasional di tanggal 2 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Acara seremonial biasanya dilaksanakan untuk menyambut kedua hari bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Upacara bendera serta berbagai lomba yang diadakan oleh OSIS sekolah sudah jamak dilakukan. Hal tersebut menjadi rutinitas dari tahun ke tahun. Namun, sayangnya rutinitas tersebut tidak berlanjut kepada esensi kenapa dua hari itu layak dikenang dan menjadi inspirasi bagi kalangan pemuda. Ya, pemuda! Kenapa harus pemuda?

Di suatu ketika pada kuliah tamu di kampus FEUI, pembicara waktu itu adalah Gita Wirjawan yang tak lain adalah Menteri Perdagangan Republik Indonesia. Dengan penyampaian yang khas dan mudah dipahami oleh sekitar 300 hadirin yang memenuhi auditorium, beliau memaparkan daya saing sumber daya manusia Indonesia yang masih tertinggal jauh dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia seperti Cina, India, atau pun Korea. Sebagai gambaran, saat ini jumlah pelajar di Amerika Serikat (AS) “hanya” sekitar 8000 siswa, setengah diantaranya dapat menikmati beasiswa. Kondisi ini sangat berbeda apabila dibandingkan dengan 60.000 mahasiswa Cina yang mendapatkan beasiswa di AS. Menurut Bapak Menteri, penyebabnya adalah pemuda-pemudi Indonesia merasa terlebih dahulu minder  untuk masuk ke universitas terkemuka tersebut.  Padahal, jika menilik kondisi ekonomi Indonesia sekarang, pertumbuhan ekonomi Indonesia merupakan salah satu yang terbaik di kawasan Asia-Pasifik, bahkan di dunia. Pepatah “kalah dahulu sebelum memulai peperangan” dapat menggambarkan kondisi pemuda Indonesia di atas. Mereka tidak mampu menonjolkan keunggulan yang mereka miliki dan merasa tidak mengenali diri mereka serta negara mereka sendiri.

Pendidikan merupakan hak universal bagi seluruh rakyat Indonesia. Lewat pendidikan, harkat dan martabat suatu bangsa mampu terangkat karena kualitas sumber daya manusianya yang dapat bersaing dengan negara lain. Pendidikan merupakan salah satu jalan untuk keluar dari jerat kemiskinan. Dampaknya pun juga akan mempengaruhi indikator pembangunan lain sehingga peran pendidikan sangat penting dalam suatu komunitas. Laporan terakhir Indeks Pembangunan Manusia yang dikeluarkan United Nation Development Program PBB tahun 2011 menempatkan Indonesia di posisi 124 dari 187 negara di dunia. Dibandingkan dengan sepuluh negara ASEAN lainnya, negeri ini menempati posisi lima, jauh tertinggal dengan Singapura di posisi 26 bahkan dengan Filipina di posisi 112. Tentu saja hal ini yang perlu diperbaiki tidak hanya oleh pemerintah saja tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat di negeri ini.

Pemuda memiliki peranan penting dalam kebangkitan bangsa ini. Pada tahun 2020, proyeksi penduduk muda Indonesia yang berusia 15-29 tahun mencapai 23% dari total penduduk Indonesia. Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai momen kebangkitan bangsa Indonesia. Salah satu cara paling mudah adalah kontribusinya lewat bidang pendidikan. Disadari atau tidak, pelajar yang sebagian besar termasuk dalam usia muda saat ini lebih mementingkan meraih degree daripada education. Degree (baca: skor nilai) merupakan faktor pendorong utama bagi pelajar di sekolah / universitas. Tak jarang terdapat siswa / mahasiswa yang ambisius dalam mengejar degree ini sampai cara-cara yang tidak baik, seperti mencontek. Padahal, education (baca: ilmu) memiliki efek jangka panjang lebih besar daripada hanya sekedar mendapatkan nilai yang baik secara teori. Sebagai mahasiswa, ilmu yang dipelajari di bangku kuliah belum cukup apabila mahasiswa tersebut tidak memiliki aktifitas lain. Saat ini softskill yang harus dimiliki oleh pemuda lebih penting daripada aspek kognitif. Pemuda sebaiknya memiliki spesialisasi keahlian agar mampu bersaing dalam dunia kerja, baik di dalam maupun di luar negeri. Sekali lagi, memiliki degree tanpa disertai dengan education tak akan berarti apa-apa.

Optimisme erat kaitannya dengan harapan dan impian. Anis Baswedan, salah satu tokoh muda berpengaruh Indonesia, memiliki optimisme bahwa semua anak-anak di Indonesia harus mengenyam pendidikan yang layak. Oleh karena itu, digagaslah program Indonesia Mengajar dimana beberapa pengajarnya bahkan telah memiliki jabatan bergengsi di perusahaan internasional tergerak hatinya untuk ikut berkontribusi dalam program tersebut. Inilah salah satu gerakan dan mulai digalakkan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam lingkup yang lebih kecil. Pertanyaannya, sebagai pemuda, kontribusi apa yang telah kita berikan kepada masyarakat sekitar? Penulis yakin bahwa idealisme merupakan senjata terakhir yang masih dimiliki setiap pemuda di Indonesia. Tanpa itu, kebangkitan bangsa ini hanyalah menjadi slogan tanpa ada langkah nyata pada beberapa tahun yang akan datang. Persaingan sekarang tidak lagi terpaku di dalam negeri, tetapi telah mencakup ranah global. Indonesia masih akan tetap tertinggal dibelakang Malaysia, Thailand, maupun Singapura apabila kita tidak segera bangkit. Perubahan dimulai dari kita sendiri dan dari sekarang!

*Tulisan ini adalah versi asli dari tulisan berjudul Pendidikan, Pemuda, dan Kebangkitan Bangsa yang dimuat pada Koran Radar Bromo (Jawa Pos Group) pada Minggu, 27 Mei 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s