Sustainability does Matter

Well, hampir lebih dari lima bulan blog ini terbengkalai. Kali ini gw akan menumpahkan ide dan pendapat gw soal Pekan Kreatifitas Mahasiswa atau yang disingkat PKM. Di universitas gw sekarang lagi gencar-gencarnya digalakkan. Kalau gak salah sih tahun ini mau ngirim 1000 proposal, angka yang nggak sedikit lo itu. Itung aja, kalau satu proposal ada lima anggota tim, berarti mahasiswa yang terlibat mencapai lima ribu orang, itu hampir satu angkatan 12 fakultas semua jalur masuk digabung loh!

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, tapi untuk sekelas universitas nomor satu di Indonesia, agak terlambat untuk menyadari ketertinggalan di bidang ini dibanding universitas/ institut lainnya. Mungkin anak-anak mahasiswa yang notabene adalah temen-temen gw sendiri terlalu sibuk sama rutinitas kuliah, organisasi, kepanitiaan, atau lomba-lomba internasional, membuat satu proposal PKM tidak terlalu menarik buat mereka.

Ada dua hal utama yang pengen gw share disini. Pertama, pengalaman gw sewaktu bikin dua proposal PKM sampai didanai, melaksanakan kegiatannya sendiri, sampai tahap Monitoring dan Evaluasi. Kedua, sedikit mengkritisi sustainability (keberlanjutan) dari sisi mahasiswa sendiri untuk membuat PKM. Sori kalau ntar pendapat gw agak subjektif sih, terserah gw kan, blog-blog gw :p

Pas setahun lalu, gw dan empat temen satu daerah gw bikin proposal PKM Kewirausahaan. Jujur waktu itu gw diajak dan pas tau timnya adalah anak-anak yang punya niat dan dedikasi, maka gw iyakan ajakan itu. Kurang lebih tiga minggu kita bikin proposal dan itu sebagian besar berlangsung di atas jam 7 malam karena kesibukan kami di kampus. Pas bikin, kami benchmarking PKM-K temen gw yang kuliah di UGM yang waktu itu lolos sampai final PIMNAS di Makassar. Ide kami yang muncul saat itu adalah bikin minuman jahe dingin terus dijual di toko-toko yang punya freezer secara eceran. Kemasan kayak es Teh Poci, tapi ini jahe. Oiya, di daerah gw namanya Pokak dan sudah dijual tapi yang jenisnya sirup. Pas monev tingkat UI, ide ini dipuji oleh evaluator yang waktu itu adalah dosen FEUI (gw kenal siapa :p). Katanya, minuman kayak gini belum ada dan target marketnya bisa untuk semua umur. Well, gw kira beliau memuji terlalu berlebihan. Tapi pada akhirnya, produk ini cuma bisa mencapai tahap 50an % dari rencana awal yang kami konsepkan di proposal. Kendalanya apa aja, nanti gw share di akhir.

Produk kedua kelompok gw adalah onigiri, Sebenernya, proposal untuk produk ini cuma dibuat sepekan karena temen satu kelompok gw ada yang jualan onigiri dan kepikiran kenapa gak sekalian dibikin proposal aja buat dapet modal. Oiya, buat yang belum tau onigiri, ini adalah salah satu makanan dari Jepang, luarnya nasi dikasih nori (sejenis rumput laut kering) yang dalemnya dikasih daging. Rasanya enak dan pas gw tanya-tanyain ke konsumen juga mereka bilang enak. Beda sama minuman jahe tadi, onigiri ini progressnya lebih keliatan dan sudah dapet untung.

Nah, ketika tau kedua proposal PKM-K gw didanai sebesar apa yang kami tulisa di proposal sama Dikti (kaget juga pas tau modal totalnya bisa beli motor baru :p), kami langsung bergerak buat nyiapin-eksekusi rencana yang ada di proposal. Rencana udah dibuat, tapi eksekusi kurang mulus. PKM ini bukanlah menjadi prioritas kami, sepertinya. Sinkronisasi waktu ketemuan antartim juga selalu di atas maghrib yang notabene sedikit sekali waktu yang bisa dipakai secara efektif. Apalagi kami harus menjalankan kedua proposal kami. Kami dituntut untuk bisa menghabiskan modal yang sudah diberikan. Selain itu, kami tidak memberdayakan orang lain untuk membuat produk kami yang notabene harus dibuat sendiri untuk minimizing cost. Sebenernya kami udah hire pembantu kosan gw untuk bikin pokak dan onigiri, tapi karena kami sistemnya producing by ordering jadi dia masaknya gak setiap hari juga. 

Ya, tim yang sama cuma beda ketua kelompok. Intinya kami kewalahan untuk menjalankannya karena awalnya kami ngirim dua proposal untuk jaga-jaga; kalau satu gak lolos, masih ada satu lagi. Kami benar-benar tidak mempersiapkan hal terbaik (atau terburuk?) seperti ini. NIAT emang yang paling utama.

Intinya kedua proposal gw gak lolos PIMNAS…

***

Pas ikut workshop soal PIMNAS di kampus, kepala divisi keilmuan senat universitas gw ngomong panjang lebar blablabla alasannya kenapa dia fokus ke PKM. Intinya, kita punya utang ke masyarakat, di masyarakat banyak masalah, dan salah satu cara ‘menebus’ utang tersebut dan menyelesaikan masalah tersbut adalah dengan membuat PKM. Kita dituntut berkreatifitas dalam bidang ilmu masing-masing. Mulia juga tujuannya, gw pikir. Tapi, otak gw mengkritisi, gimana ya jangka panjangnya kalau proposal-proposal itu didanai? Kalau setiap tahun targetnya minimal 1000 proposal pimnas, pasti gak semua mahasiswa ngumpulin proposalnya, kan? Bisa juga yang udah ikut tahun sebelumnya dan didanai di PKM sebelumnya ngumpulin proposal lagi, tapi gimana sama kegiatannya itu?

Gw sendiri sih yakin mahasiswa satu almamater sama gw ini punya time management yang bagus. Semoga oerubahan mindset ini tidak hanya mengantarkan kampus gw masuk paling tidak tigas besar PIMNAS, tapi juga untuk kemashlahatan masyarakat. Aamiin..

*dibuat pas big match North London Blue vs Manchester Red🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s