Fenomena Mahasiswa Apatis; Salah Siapa?

…dan apatis tentunya adalah negasi dari aktivis.. (anonim)

Mahasiswa; sebuah kata sarat makna, bahkan sudah banyak kalangan yang berusaha mengartikan kata tersebut, Begitu banyaknya arti dari kata Mahasiswa sehingga menimbulkan banyak pandangan dan hal tersebut adalah benar semua. Akan tetapi kadang kita terlupakan dari mana kata Mahasiswa itu terbentuk. Mahasiswa terbentuk dari dua kata yakni kata Maha dan Siswa, yang jika diartikan Maha sama artinya dengan “yang dan siswa artinya pelajar”, jadi Mahasiswa sama saja bila dikatakan “yang terpelajar”.

Kampus dan mahasiswa merupakan entitas yang tidak bisa dipisahkan. Kampus merupakan kawah candradimuka bagi para mahasiswa. Namun, pernyataan itu tidak tepat bagi kalangan mahasiswa apatis. Kampus merupakan tempat hura-hura, tempat bersenang-senang bagi mereka yang tidak begitu tertarik dengan hingar bingar dinamika kampus. Buku, pesta, dan cinta; itulah kata-kata yang paling tepat yang bisa menggambarkan betapa bernilainya suatu tempat yang bernama kampus.

Mahasiswa mungkin dipercaya menjadi agen of change dari sebuah zaman. Berbagai historika telah banyak diwarnai oleh aktivis-aktivis kampus; dari masa lengsernya Soekarno, jatuhnya Soeharto sampai peristiwa 2008 yang hampir saja memakzulkan pak BeYe, tentu semua itu tidak lepas dari gerakan mahasiswa.

Universitas Indonesia adalah salah satu kampus yang memiliki tokoh mahasiswa yang turut mengubah wajah negeri ini lewat gerakannya. Namun, tidak semua mahasiswa memiliki motivasi yang sama sewaktu mereka menginjakkan kaki mereka di kampus. Tentunya kita tidak bisa menyalahkan mereka yang memilih untuk berkonsentrasi kuliah dan meninggalkan organisasi di kampus sebagai bentuk konsekuensinya. Itu tidak salah. Ada beberapa hal yang membuat kenapa mahasiswa menjadi apatis. Pertama,  Hedonisme (hura-hura) yang kental di kehidupan ibukota ini. Mahasiswa kini tak bisa lagi secara universal disebut kaum intelektual atau pembawa perubahan. Hedonisme telah merubah banyak di antara mereka dari kutu buku menjadi pencinta club malam, narkoba atau Miras. Pergeseran perilaku ini tak bisa dilepaskan dari pengaruh arus globalisasi sehingga cenderung sangat sulit dibendung. Organisasi seharusnya mampu memberikan kesibukan kepada mereka sehingga tak ada waktu untuk terjebak pada perilaku menyimpang ini. Gelarlah kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial seperti baksos atau kegiatan yang kompetitif seperti lomba menulis dan sebagainya. Buatlah kegiatan yang tak diperoleh di bangku kuliah.

Kedua, kesibukan di organisai dipercaya dapat menurunkan prestasi akademik mahasiswa. Pernyataan ini ada benarnya, namun tentunya tidak berlaku secara umum bagi seluruh mahasiswa. Kuncinya adalah manajemen waktu. Apakah mahasiswa bisa mengatur waktu yang proporsional antara kuliah dan berorganisasi. Mahasiswa apatis melihat rekannya yang ikut dalam suatu organisasi  memilik IPK yang lebih rendah dari rata-rata. Sekali lagi, ini tidak bersifat general. Mahasiswa apatis tentu tidak ingin nasibnya seperti aktivis kampus tersebut. Terlebih lagi apabila jika melihat komposisi mahasiswa UI yang kebanyakan dari luar Jakarta. Mereka pasti memiliki tanggung jawab besar agar nilai akademik mereka selalu bagus.

Ketiga, banyak diantara mahasiswa menganggap tidak ada insentif sama sekali untuk masuk ke organisasi mahasiswa. Mereka tidak tertarik untuk masuk karena mereka  memiliki suatu hal yang mereka anggap lebih menarik daripada organisasi kemahsiswaan, misalnya bermain games, tidur di rumah, dan lain-lain. Menurut mereka, mengikuti organisasi kampus sama halnya seperti membuang waktu. Di samping itu, aktivis biasanya dicap sebagai pendemo, sering turun ke jalan. Hal ini tentu saja merisaukan orang tua mahasiswa yang tidak ingin anaknya ikut-ikutan sebagai pendemo. Ketakutan inilah yang membuat orang tua melarang anaknya mengikuti organisasi di kampus.

Dilihat dari segi sosial-kultural, tentunya dapat dilihat bahwa ada pergeseran yang telah terjadi di kalangan mahasiswa. Era globalisasi dan keterbukaan menjadi pemicu utama dari apatisme mahasiswa. Saat ini bukan lagi zaman di mana buku-buku, dengan perpustakaan sebagai tempat nongkrong atau diskusi. Mahasiswa saat ini ada pada generasi internet (facebook/twitter) yang menjadikan warkop (warung kopi) sebagai tempat menghabiskan waktu. Di sisi lain, sungguh disayangkan bahwa tak jarang gerakan mahasiswa tak mengundang simpati melainkan antipasti dari masyarakat lantaran gerakan mereka tak independen lagi. Beberapa aksi yang digelar cenderung berbau politis alias ditunggangi oleh pihak yang punya kepentingan. Banyak yang ikut demonstrasi tak menguasai wacana sehingga kesannya ikut-ikutan. Di samping itu, maraknya aliran tertentu yang menguasai beberapa organisasi kampus, baik di tingkat fakultas maupun universitas membuat beberapa mahasiswa menjadi jengah untuk ikut organisasi kampus.

Beberapa solusi bisa dilakukan untuk mengurangi apatisme mahasiswa. Pertama, urgensi ospek mahasiswa baru (dalam hal ini PSAU dan PSAF) sangatlah penting. Mahasiswa baru merupakan mahasiswa yang masih berada dalam tahap labil, dimana mereka masih berada dalam tahap transisi dari siswa sekolah ke seorang yang lebih terpelajar. Mahasiswa baru (maba) tentunya berasal dari SMA yang berbeda-beda dan setiap SMA memiliki kultur organisasi yang berbeda pula. Ospek maba menjadi penting untuk mengarahkan mahasiswa kepada minat dan bakat yang dimilikinya. Di satu sisi, banyak organisasi baik di tingkat fakultas maupun universitas mengeluh tentang sulitnya kaderisasi di organisasi mereka, terutama organisasi politik. Banyak maba yang tidak tertarik untuk menjadi politikus kampus.

 

Solusi selanjutnya adalah menjaring mahasiswa apatis langsung ke tempat dimana mereka nongkrong. Politisi kampus biasanya mereka anggap tidak memperhatikan kepentingan mereka atau tidak satu pemikiran dengan mereka. Dengan cara jemput bola seperti ini, mereka merasa diperhatikan dan aspirasi mereka bisa tersalurkan. Bukan tidak mungkin apabila keinginan mereka tersalurkan, respek dan sikap acuh tak acuh mereka hilang terhadap organisasi kampus.

Kemudian pendidikan politik dan kenegaraan sangat perlu untuk menumbuhkan rasa perhatian mereka terhadap negara ini.Di UI, rasanya gerakan untuk menumbuhkan pendidikan politik seperti ini kurang gencar dilakukan. Mungkin hanya beberapa kalangan saja seperti Mapres, para ketua BEM Fakultas atau pejabat organisasi d kampus lainnya yang dapat mengunjungi wakil dewan di Senayan untuk belajar perpolitikan langsung.

Tak mudah untuk mewujudkan solusi-solusi di atas. Dampaknya tidak instan di zaman yang kebanyakan manusianya menginginkan hal serba-instan ini. Perlu waktu untuk melihat hasilnya. Indonesia tidak memerlukan politisi-politisi yang hanya memikirkan kepentingan pribadi semata. Indonesia butuh seorang negarawan sejati. Untuk memunculkan sifat negarawan ini perlu dimulai dari kehidupan kampus. Dari kehidupan kampus itu dimulai dari organisas-organisasi yang ada di dalamnya.

Penulis yakin mahasiswa UI adalah mahasiswa yang memiliki tingkat intelejensi di atas rata-rata. Mereka ingin bekerja di perusahaan multinasional ketika mereka sudah lulus dari Universitas ini dan memiliki kehidupan. Itu impian semua orang. Jarang ada mahasiswa yang memiiki impian eksplisit untuk menjadi politisi, kecuali mahasiswa Ilmu Politik mungkin. Tak heran manakala mahasiswa sekarang lebih memilih apatis ketimbang jadi organisatoris sebab mereka memandang organisasi tak lagi menjadi alat kebanggaan. Bahkan organisasi tak memberikan jaminan kehidupan yang layak di hari tua

Sayangnya, beberapa politikus di Indonesia saat ini (maaf) kurang cerdas. Hati nurani mereka membatu, gendang telinga mereka mengeras sehingga tidak mampu mendengar jeritan rakyat. Politisi zaman sekarang sudah hampir sama seperti rent seeker (pencari keuntungan). Mahasiswa-mahasiswa pintar UI yang seharusnya mengisi tempat politisi tersebut. Sebagai penutup, penulis mengutip ucapan Prof. Usman Chatib Warsa; ‘masa depan UI adalah masa depan bangsa Indonesia’. Negara ini butuh pemimpin dan politisi terbaik dari kampus terbaik di negeri ini.

 

Referensi:

(http://lemangagah.blogspot.com/2009/02/mahasiswapeduli-atau-apatis.html)

(http://ahmadsidqi.wordpress.com/2009/02/10/apatis-dan-hedonis-adalah-kebudayaan-mahasiswa/)

(http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/08/mahasiswa-di-tengah-apatisme/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s