Baca Ini, Penting!!

Saat sesi kuliah siang ini.

Dokter D: Jumlah fakultas kedokteran di Indonesia ada berapa?

(Sebagian) Mahasiswa: 72.

Dokter D: 72? Dari 72 itu, semuanya sebagus FKUI ga?

(Sebagian) Mahasiswa: Enggaak.

Dokter D: Kesannya sombong banget ya kalau dibilang sebagus FKUI. Tapi, kita pantes sombong ga?

(Sebagian) Mahasiswa: Pantees.

Saya: -__-‘

Perbincangan di atas dilatarbelakangi oleh pelaksanaan UKDI (Ujian Kompetensi Dokter Indonesia). Sebelum memiliki izin praktik, calon dokter di seluruh Indonesia diwajibkan melakukan ujian ini. Setiap tahun berlangsung empat kali ujian. Untuk menentukan batas kelulusan, diadakan pertemuan yang melibatkan seluruh dekan fakultas kedokteran. Kemudian, para dekan diberikan lembar soal ujian untuk menilai tingkat kesulitas soal. Setelah itu, dekan dari tiap-tiap fakultas akan menentukan ambang batas nilai yang pantas untuk kelulusan ujian tersebut. Nilai dari tiap dekan dijumlah lalu dicari nilai rata-ratanya yang akan menjadi batas nilai kelulusan UKDI saat itu. Beberapa dekan yang merasa tidak pede dengan kemampuan mahasiswanya ada yang memberikan nilai ambang 20 saja. Diceritakan pula oleh dokter D, dekan FKUI dipandang sinis oleh beberapa dekan universitas lain karena mematok nilai 70. Hmm.🙂

UKDI sendiri pelaksanaannya beberapa waktu yang lalu sempat ditentang oleh mahasiswa fakultas kedokteran universitas lain (setahu saya, tidak ada mahasiswa FKUI yang menentang pelaksanaan UKDI). Mereka melakukan demonstrasi terkait hal ini. Beberapa senior dan teman saya mencemooh para mahasiswa tersebut yang dianggap takut tidak lulus karena tidak punya kompetensi.

Nilai ambang yang rendah, tentunya akan meluluskan dokter-dokter dengan kualitas rendah. Ujung-ujungnya, masyarakatlah yang dirugikan. Dokter dengan kompetensi “40”, misalnya, akan kesulitan dalam melakukan penegakan diagnosis yang bisa jadi berdampak pada kesehatan pasien. Kecuali, si pasien sebelum berobat terlebih dulu bertanya, “Dok, dulunya lulusan mana?”

Catatan: Sudah saatnya pemberian izin pembentukan fakultas kedokteran baru diperketat. Evaluasi terhadap fakultas kedokteran yang telah berdiri pun juga harus dilakukan dengan baik secara rutin. Jangan sampai, suatu saat nanti, berdiri fakultas kedokteran dengan ruko sebagai bangunan kampusnya.

dari sini

Tulisan di atas saya ambil dari miniblog seorang mahasiswa kedokteran FKUI. Menurut saya, hanya ada beberapa fakultas kedokteran (FK) yang benar2 berkompeten di Indonesia dilihat dari tahun berdirinya, jika diranking tiga besar seperti ini; pertama tentu saja FKUI Jakarta, kedua FK Universitas Airlangga (FKUA) Surabaya, dan terakhir FK UGM Jogja. Sekedar curhat, saya waktu jaman lulus SMA berminat untuk masuk sekolah kedokteran tetapi tidak di ketiga tempat tersebut, saya memilih jalur prestasi di FK Univ. Sebelas Maret Solo yg cukup memiliki track record yang bagus di Indonesia, namun nasib berkata lain, saya terdampar di FEUI, hehe..

Semoga tulisan di atas bisa memberikan informasi tambahan bagi siapapun yang membacanya bahwa dalam suatu pembangunan negara, ada beberapa faktor utama yang berperan dalam pertumbuhan ekonomi, tiga diantaranya adalah pendidikan,akses terhadap kesehatan , dan bebas dari kelaparan. Apabila ketiga faktor ini tidak diperhatikan secara serius oleh pemerintah, maka akan tercipta civious cycle tiada akhir yang biasanya terjadi pada masyarakat miskin. Semoga sekolah dokter di negeri ini bisa melahirkan dokter-dokter berkualitas serta mau mengabdi di daerah terpencil agar akses terhadap sarana kesehatan yang layak mampu dijangkau oleh masyarakat pedalaman. Semoga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s