Ekonofisika untuk Indonesia

Penulis tertarik dengan term satu ini “Ekonofisika”. Term ini memang belum terlalu familiar di telinga masyarakat, bahkan di kalangan ekonom sendiri. Sama halnya seperti biofisika untuk biologi, geofisika untuk geografi, serta astrofisika pada astronomi, ekonofisika merupakan perpaduan ilmu antara ekonomi dengan fisika. Awalnya Penulis kira ekonofisika adalah salah satu cabang dari ekonomi, ternyata Penulis keliru. Sebaliknya, ekonofisika merupakan cabang dari fisika, lebih tepatnya fisika statistik. Di dalam ekonomi sendiri, ekonometrika hampir mempelajari hal yang sama; statistik, matematika, dan teori ekonomi. Namun, kedua hal yang nampaknya sama itu ternyata memiliki perbedaan sudut pandang dan penyelesaian dalam threatment dari sebuah data; ekonometrika menggunakan pendekatan statistika kontemporer dipadukan dengan teori ekonomi sebagai landasan penghitungan, sedangkan ekonofisika lebih menekankan penggunaan persamaan fisika dalam analisanya terhadap pasar saham.

Penulis sangat setuju dengan pernyataan “Ekonomi merupakan “ratu” ilmu-ilmu sosial sedangkan fisika adalah “pangeran” dalam kajian ilmu alam”. Ekonomi baru dipelajari melalui pendekatan matematis sejak generasi Jan Tinbergen dan Paul Samuelson. Prof. Dorodjatun menggunakan istilah mathematics economics untuk menandai peranan matematika serta statistik dalam kajiannya terhadap ilmu ekonomi. Lebih jauh, tahapan analisis kuantitatif ini hampir menyerupai quantum physics dalam ilmu fisika dasar. Tentunya hubungan logika ini belum dapat ditangkap sepenuhnya kenapa ekonomi dapat berhubungan dengan fisika. Hal ini didasarkan pada pasca-Perang Dunia II, kemajuan hardware, software, serta ketersediaan data ekonomi statistik berlimpah dibandingkan masa sebelumnya.

Penulis baru tahu kalo mbah buyut Adam Smith memakai analogi astronomi untuk menjelaskan mekanisme pasar dalam bukunya The Principles which Lead and Direct Philosophical Enquiries; Illustrated by the History of Astronomy, sering disebut The History of Astronomy . Teorinya kurang lebih menyatakan, “fungsi pasar mirip dengan fungsi matahari dalam sistem tata surya”. Dengan pemikiran simpel Penulis, pernyataan Adam Smith secara implisit menyatakan siapa yang paling “besar” dia adalah pemenang. Matahari seperti yang kita tahu merupakan benda langit paling besar di system tata surya dan memiliki pengaruh besar kepada planet-planet sekitarnya termasuk Bumi. Apabila matahari tidak bekerja atau tidak menjalankan fungsi sebagaimana mestinya, yakinlah system tata surya ini tidak akan bekerja sebagaimana mestinya. Sama seperti pasar, apabila fungsi pasar tidak bekerja dengan baik, maka sistemnya dalam hal ini masyarakat serta agen ekonomi lain yang bergantung kepada pasar akan kehilangan acuannya sehingga mereka bergerak tidak sesuai “orbitnya”, sama seperti planet-planet dalam tata surya.

Dalam ekonofisika, sedikitnya ada dua pendekatan yang digunakan untuk mempelajari fluktuasi atau perkembangan dinamika sektor-sektor ekonomi, yaitu analisis data dan model ekonofisika (Mart, Kompas 5 Oktober 2011 dalam Warsono). Pendekatan analisis data digunakan jika masalah yang dihadapi berupa interaksi antarsub unit menjadi sangat besar sedangkan interaksi antara individu antarsub itu sendiri sangat sulit untuk dijelaskan. Contohnya adalah analisis terhadap indeks Data yang dianalisis biasanya memiliki range 10 tahun dengan frekuensi data menit. Pendekatan kedua adalah model ekonofisika yang berusaha untuk menerapkan skema perhitungan fisika dalam system ekonomi. Model Scholes-Black merupakan salah satu perhatian fisikawan (dan ekonom, tentunya) dalam peranannya terhadapa call option (opsi beli) dari suatu saham. Penulis tidak akan membahas terlalu teknis bagaimana cara perhitungan Black-Scholes dalam opsi beli suatu saham, namun melihat pasar saham Indonesia yang cenderung mengalami bubbling dilihat dari nilai indeks yang menguat beberapa bulan terkahir, maka investor memerlukan perhitungan cermat untuk memutuskan investasinya.

Jika ingin sedikit membahasa teknisnya, Prof. Yohannes Surya dalam Ekonofisika dan Nobel Ekonomi 2003 menjelaskan secara komprehensif tentang penggunaan metode time-series modelling serta random walk yang diprakarsai oleh Clive Granger dan Robert Engle. Disebutkan bahwa untuk data saham dan keuangan dengan tingkat fluktuasi yang tinggi, model otokorelasi dengan variansi berubah adalah model yang lebih realistis dibanding model otokorelasi dengan variansi konstan, sehingga model ARCH merupakan model yang lebih realistis untuk memodelkan nilai volatilitas data saham atau keuangan dibanding model AR,MA,dan ARMA. Secara sederhana dapat kita katakan bahwa volatilitas berdasarkan model ARCH(p) mengasumsikan bahwa variansi data fluktuasi dipengaruhi oleh sejumlah p data fluktuasi sebelumnya. Sebagai contoh, volatilitas dengan ARCH(7) berarti variansi data fluktuasi dipengaruhi oleh tujuh data fluktuasi sebelumnya.(Surya: 2008)

Pada tahun 1986, seorang mahasiswa bimbingan Engle, Tim Bollerslev, bahkan lebih jauh mengembangkan ARCH menjadi GARCH (generalized autoregressive conditional heteroskedastic) yang jelas lebih baik daripada ARCH. Secara sederhana volatilitas berdasarkan model GARCH(p,q) mengasumsikan bahwa variansi data fluktuasi dipengaruhi oleh sejumlah p data fluktuasi sebelumnya dan sejumlah q data volatilitas sebelumnya. Volatilitas GARCH (1,1) mengasumsikan bahwa variansi data fluktuasi dipengaruhi oleh sejumlah satu data fluktuasi sebelumnya dan sejumlah satu data volatilitas sebelumnya. .(Surya: 2008) (Pada gambar ditunjukkan penggunaan analisis ini yang penulis aplikasikan pada fluktuasi harga saham PT TELKOM dari tahun 1995 sampai dengan 2003).

               Sumber: Ekonofisika dan Nobel Ekonomi 2003, Yohannes Surya: 2009

Sebagai penutup, ekonofisika sejauh ini banyak berperan dalam analisa di sektor keuangan, khususnya di dalam pasar saham. Di sisi ekonom, tampaknya ekonofisika dan ekonometrika bagai pinang dibelah dua. Walaupun seperti penjelasan sebelumnya bahwa ekonofisika merupakan cabang dari fisika, namun tidaklah salah apabila ekonom dengan kemampuan kualitatif di atas rata-rata terjun dalam bidang ini. Sebagai contoh nyata, dengan penghasilan per tahun sebesar 100.000 dollar AS untuk pemula dan dapat mencapai setengah juta dollar untuk para analis keuangan yang sudah mulai profesional, bidang ini tampak lebih menjanjikan ketimbang harus bersaing dengan ratusan jenius fisika untuk memperebutkan satu dari beberapa gelintir posisi di universitas atau laboratorium penelitian. Walaupun ekonomi dan fisika merupakan dua bidang yang berbeda, tidak ada salahnya bagi ekonom dan fisikawan memikirkan cara untuk merumuskan kembali ekonofisika tidak hanya di lingkup mikro, namun dalam cakupan yang lebih luas lagi yaitu makroekonomi yang lebih kompleks. Semoga.

6 thoughts on “Ekonofisika untuk Indonesia

    • Tidak bisa digeneralisir seperti itu. Matematika serta fisika saling mengisi untuk memperkuat teori-teori ilmu ekonomi. Kesalahan utama krisis ekonomi adalah kesalahan manusia sendiri yang terlalu greedy (tamak). Ilmu ekonomi tanpa matematika bukan apa-apa. Ilmu keuangan tanpa bantuan fisika juga tidak akan semaju saat ini. Solusi untuk mencegah terjadinya krisis ekonomi global di masa depan adalah keterlibatan pemerintah dalam mengatur regulasi khususnya di pasar keuangan. Otomatis invisible hand a la Adam Smith tidak berlaku ketika pemerintah turut campur dalam sebuah urusan ekonomi.

      • Setuju, seperti laporan pencari fakta krisis ekonomi Amerika (http://www.cfr.org/united-states/financial-crisis-inquiry-commission-report-january-2011/p23952) krisis disebabkan kesalahan manusia, karena menganggap bahwa manusia adalah rasional dan selalu membuat keputusan dengan matematika. Greed and Fear penyebab krisis, sudah saatnya ilmu ekonomi mencari pendalaman dari psikologi cognitive, neuroscience yang dibangun dalan behavioral finance/behavioral economic. Ide Adam Smith tentang invisible hand, pelaku pasar mengatur dirinya sendiri ternyata gagal (keinsyafan Alan Greenspan penganut neo-klasik), karena perlaku pasar ternyata serakah tanpa campur tangan pemerintah yang oleh John M Keynes di identifikasi sebagai perilaku animal spirit. Manusia tidak hanya terikat pada hukum-hukum fisik, tetapi punya mental yang menderita biar kognitive (Riset Daniel Kahneman). Seperti yang dikatakan Paul Samuelson (ekonom yang merevoluisi ekonomi dengan matematika) sebelum meninggal “Yah, aku akan mengatakan ini. Dan ini adalah hal utama yang harus diingat. Makroekonomi – bahkan dengan semua komputer kami dan dengan semua informasi kami – bukan ilmu pasti dan tidak mampu menjadi ilmu pasti “. Matematika sangat bermanfaat untuk ekonomi sampai batas tertentu, tapi harus diingat pasar adalah alat yang dibuat manusia” yang tidak kebal perubahan seperti hukum alam
        salam..

      • Sebenarnya sudah banyak jurnal dan penelitian yang menyinggung soal behavioral dan psychology di bidang ekonomi (terutama marketing), tapi untuk di ilmu ekonomi makro sendiri, belum ada research yang membahas tentang krisis ekonomi dikaitkan dengan psikologi. FYI, nobel laurate di bidang ekonomi tahun 2008, Elinor Ollstrom (cmiiw) berlatar belakang psikologi. Jadi, khazanah ilmu ekonomi sudah tidak lagi mencakup sebatas ilmu sosial, tapi sudah memasuki ranah mental-psikis dan ilmu pasti.

        Globalisasi secara tidak langsung membawa dampak bagi terbukanya sektor finansial di berbagai negara. Amerika Serikat (AS) menjadi pelopor globalisasi dengan mengajukan banyak metode derivatif keuangan yang sangat canggih. Sayangnya, kekuatan ekonomi AS sudah terlampau kuat saat itu dan dampaknya sangat terasa bagi negara-negara yang berhubungan langsung dengan ekonomi AS. Untungnya, pada tahun 2008, sejumlah analis ekonomi Indonesia mengatakan bahwa Indonesia hanya terimbas sedikit dari krisis ekonomi AS, terutama di sektor riil. Imbas yang kuat dirasakan di sektor keuangan dimana saat itu pasar modal Indonesia mengalami bullish sejak lima tahun belakangan.

        AS sekarang mulai terindikasi terserang kepanikan karena ekonomi mereka hampir disaingi oleh Cina dan emerging countries di ASEAN (Singapura, Thailand, dan Indonesia). Hal ini terlihat dari kedatangan pertama kali Pres. Obama di KTT APEC di Nusa Dua Bali serta penandatanganan berbagai perjanjian perdagangan seperti antara pembelian pesawat Boeing dengan Lion Air, mengindikasikan bahwa AS ingin menarik sejumlah mata uang dollar-nya kembali ke negaranya untuk pembangunan di sektor riil pascakrisis ekonomi. Sayangnya, negara-negara ASEAN menjadi korban..

  1. Ikutan nimbrung bro….
    Memang sangat disayangkan…behavioral finance dan behavioral economic yang lagi top sebagai kajian ilmu ekonomi baru di AS tidak ada text book nya di Indonesia padahal sejak Daniel Kahneman dan Vernom Smith menerima nobel ekonomi 2002 pada bidang behavioral economic dan sejak krisis sekarang, ini bidang ilmu ekonomi yang ngetop, karena bidang ini sukses meramalkan datangnya krisis. By the way, semakin banyak ilmu yang memperbaiki ilmu ekonomi seperti psikologi, neuroscience, fisika, biologi entah apalagi, karena hidup kita yang kompleks punya fisik, mental, perilaku dll, kita tidak mengulang kesalahan2 akibat pemahaman keilmuan yang misleading.
    ini salah satu situs behavioral finance :
    http://www.behaviouralfinance.net/

    thank’s untuk bro-bro semua

    • monggo-monggo, ide dan saran membangun siap ditampung hehe..

      Yup, ilmu ekonomi tidak lagi menjadi the mother of all social sciences karena keterkaitannya dengan ilmu lain tersebut. Sayangnya, penelitian yang membahas antara ilmu ekonomi dengan ilmu lainnya belum begitu banyak. Tapi, kembali lagi ke filosofi awal yang berbunyi manusia adalah Homo Homini Lupus dapat memperbesar peluang manusia mengulang kesalahan-kesalahan ekonomi yang menyebabkan terjadinya krisis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s