Gerakan Mahasiswa Indonesia: Arah dan Perjuangannya Dulu, Kini, dan Nanti

Kepada para mahasiswa, yang merindukan kejayaan.

Kepada para rakyat yang kebingungan, dipersimpangan jalan.

Kepada pewaris peradaban

Yang telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan

Dilembar sejarah manusia

Wahai kalian yang rindu kemenangan

Wahai kalian yang turun ke jalan.

Demi mempersembahkan jiwa dan raga

Untuk negeri tercinta.

(Totalitas Perjuangan)

Demikian “lagu wajib” mahasiswa ketika mereka turun ke jalan.membawa suara dan teriakan rakyat yang biasanya tidak sampai ke telinga para pejabat di Senayan atau di Istana Negara. Mahasiswa tidak ubahnya sebagai “lidah” rakyat jelata. Ketika rakyat jelata sudah tidak mampu lagi melawan dan teriakan mereka tidak dihiraukan oleh pemerintah, mahasiswalah yang menyampaikan aspirasi dari segelintir golongan tersebut. Ya, segelintir golongan yang sayangnya mereka adalah (meminjam istilah Prof. Sri-Edi Swasono) kaum marginal-residual yang menjadi mayoritas penduduk di negeri ini, Indonesia.

Berbicara gerakan mahasiswa mungkin tidak akan habisnya. Wikipedia[1] mendefinisikan gerakan mahasiswa sebagai kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya. Gerakan mahasiswa Indonesia sebenarnya sudah dimulai dari zaman pendudukan Belanda di Indonesia. Pergerakan pemuda-pemuda di Indonesia dimulai pada tahun 1908 ketika pertama kali berdirinya Budi Utomo. Walaupun kesan primordialisme kedaerahan masih terlihat kental, namun Budi Utomo adalah tonggak awal pergerakan mahasiswa STOVIA saat itu. Kemudian di tahun 1928 ketika Sumpah Pemuda menjadi titik kulminasi dari perjuangan pemuda (baca: mahasiswa) yang saat itu dipelopori oleh Soetomo di Surabaya dan Ir. Soekarno di Bandung. Sampai tahun 1945, gerakan kepemudaan yang saat itu banyak dipelopori oleh pemuda berorientasi pada semangat kemerdakaan Indonesia. Lepas dari itu, pada tahun 1966, isu komunis yang berkembang saat itu dijadikan sebagai isu sentral untuk menggulingkan pemerintahan Orde Lama pimpinan Soekarno. Pada akhirnya, keluarlah SUPERSEMAR yang mengangkat Jenderal Soeharto sebagai pengganti Ir.Soekarno.

Peristiwa MALARI di tahun 1972 yang mengorbankan Arif Rahman Hakim serta gerakan mahasiswa di tahun 1990-an yang mengangkat isu Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) tersebut  cukup sensitif di kalangan mahasiswa. Pada akhirnya, gerakan fenomenal mahasiswa terjadi di tahun 1998 ketika mahasiswa menggulingkan pemerintahan Orde Baru pimpinan Alm. Jenderal Besar Soeharto. Penulis tidak perlu menceritakan kembali kejadian 1998 yang memakan sejumlah korban jiwa, baik dari kalangan sipil, militer, maupun mahasiswa sendiri. Kejadian 1998 sudah menjadi rahasia umum bagi rakyat Indonesia memicu sebuah “revolusi” kecil di negara ini. Dari uraian singkat di atas, dapat ditarik sebuah benang merah pergerakan mahasiswa dari zaman pra-kemerdakaan sampai pra-reformasi, yaitu 1) sebagai motor pergerakan pembaharuan dan 2) kepedulian dan keberpihakan kepada rakyat[2].

Menginjak masa pascareformasi yang sudah berjalan selama 12 tahun sejak digulingkannya Orde Baru, rakyat Indonesia masih belum melihat pegerakan frontal mahasiswa untuk menyuarakan kehidupan wong cilik yang sekarang semakin tersiksa oleh “penjajahan” terselubung. Apa itu penjajahan terselubung? Globalisasi yang masuk dari luar negeri, terutama dari negara-negara maju ke negara berkembang seperti Indonesia telah merenggut kedigdayaan ekonomi, sosial, dan (mungkin) kondisi poltik negara ini. Daya saing bangsa ini kalah telak dari negara-negara maju lain, bahkan dari negara tetangga seperti Thailand, Vietnam, ataupun Malaysia. Indonesia perlu was-was apabila kesepakatan perdagangan bebas ASEAN dan Cina (ACFTA) jadi diberlakukan. Dengan negara-negara tetangga saja daya saing kita masih tertinggal, apalagi dengan calon negara adidaya baru seperti Cina(!)

Perlu kiranya apabila kita merenungi pidato Presiden Soekarno kepada Malaysia. Dikatakan bahwa dalam pidato tersebut bahwa Indonesia harus berdikari (self-help) dari berbagai bidang, terutama bidang ekonomi dan militer. Indonesia mampu menjadi kekuatan diantara negara-negara kuat lainnya karena Indonesia memberikan anugerah luar biasa berupa sumber daya alam yang melimpah di penjuru negara ini. Tapi, Tuhan Maha Adil. Ada sebuah jargon yang menyindir bahwa dibalik melimpahnya SDA di negeri ini, rakyat kita belum mampu memanfaatkannya secara optimal demi kemashlahatan masyarakatnya sendiri.

Bicara tentang idealisme mahasiswa, banyak aktivis pergerakan mahasiswa tahun 1966 maupun 1998 terlihat luntur. Mereka telah atau sedang berada di lingkaran sistem yang dulu mereka tentang habis-habisan. Mereka sekarang banyak bergabung di berbagai parpol baik yang pro-pemerintahan maupun yang oposisi. Mereka lupa dengan apa yang mereka perjuangkan semasa mahasiswa.

Peran mahasiswa dituntut lebih aktif lagi pascareformasi. Masa selama studi di kampus merupakan sarana penempaan diri yang telah merubah pikiran, sikap, dan persepsi mereka dalam merumuskan kembali masalah-masalah yang terjadi di sekitarnya. Kemandegan suatu ideologi dalam memecahkan masalah yang terjadi merangsang mahasiswa untuk mencari alternatif ideologi lain yang secara empiris dianggap berhasil. Maka tak jarang, kajian-kajian kritis yang kerap dilakukan lewat pengujian terhadap pendekatan ideologi atau metodologis tertentu yang diminati. Tatkala, mereka menemukan kebijakan publik yang dilansir penguasa tidak sepenuhnya akomodatif dengan keinginan rakyat kebanyakan, bagi mahasiswa yang committed dengan mata hatinya, mereka akan merasa “terpanggil” sehingga terangsang untuk bergerak[3]. Pergerakan mahasiswa tidak hanya ditunjukkan oleh aksi demo, turun ke jalan, atau aksi anarkis lainnya. Mahasiswa dituntut untuk lebih cerdas dalam bertindak, dalam artian, tindakan yang diambil mahasiswa harus secara elegan. Mahasiswa dituntut untuk memiliki keteguhan hati dan idealisme yang kuat untuk tetap menomorsatukan permasalahan rakyat. Permasalahan negara ini tidak hanya yang ada di dalam negeri, tetapi kondisi luar negeri juga terkait dengan kebijakan yang diambil para policy-maker yang sering kali tidak berpihak pada wong cilik.

Dalam menanggapi kebijakan pemerintah yang biasanya kontra dengan apa yang dibutuhkan negara ini, mahasiswa acapkali langsung tanggap dengan aksi turun ke jalan. Tindakan seperti itu oleh mahasiswa dirasakan sebagai sebuah kegiatan yang sudah dianggap rutin. Ibn Ghifari[4] berkomentar bahwa suatu kegiatan yang dianggap rutin seperti aksi demo turun ke jalan biasanya tidak berdampak apa-apa malah mahasiswa akan terbiasa dengan kegiatan tersebut. Begitu pula dengan pemerintah. Maraknya aksi yang dilakukan oleh pelbagai gerakan mahasiswa tak membuat pengausa menjadi takut lagi dengan kedatangan kaum pelajar itu, terkadang para pejabat memandang sebelah mata terhadap segala bentuk tuntutan yang di lontarkan oleh generasi muda. Acapkali aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa ditunggangi oleh pihak-pihak yang membawa kepentingan tertentu. Banyak Korlap (Koordinator Lapangan) atau Danmas (Komandan Massa) dari sebuah aksi demo dibayar untuk menyusupi aksi tersebut. Tentunya, hasil yang dibawa mahasiswa tidak murni lagi menyampaikan aspirasi rakyat kecil.

Disini, peranan kampus memiliki arti penting dalam pergerakan mahasiswanya. Seharusnya, kampus mengkombinasikan intelektualitas mahasiswa dengan aksi politik-sosial agar keduanya bisa sejalan seirama. Tanpa bermaksud menyindir, saat ini sangat jarang ditemui para aktivis kampus yang sering turun ke jalan untuk berdemo menyuarakan aspirasi rakyat, memiliki IPK yang memuaskan. Dalam istilah ekonomi, istilah trade-off dan opportunity cost dapat menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi. Aktivis harus memilih antara memperjuangkan aspirasi rakyat atau kewajiban pribadinya sebagai seorang mahasiswa. Memang tidak mudah menjadi seorang mahasiswa. Perlu adanya sikap kenegarawan sejati yang mesti dipupuk ketika mahasiswa duduk di bangku kuliah. Sikap ini harus dimiliki setiap mahasiswa yang memiliki idealisme untuk menyampaikan aspirasi rakyat agar idealisme tersebut tidak luntur walaupun mereka tidak menyandang status sebagai mahasiswa lagi. Sikap kenegarawan ini penting sebab dibutuhkan rasa nasionalime dan patriotisme tinggi yang sekarang sudah semakin jarang ditemui mahasiswa yang masih memiliknya.

Sampai saat ini pun, penulis tidak menolak aksi turun ke jalan yang sering dilakukan mahasiswa untuk mengkritisi kebijkan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Namun, cara elegan yang dapat ditempuh adalah dengan menulis. Ya, menulis! Media saat ini memiliki arti yang cukup penting di era keterbukaan seperti sekarang. Media memiliki kekuatan yang tidak boleh dipandang sebelah mata lagi. Dengan menulis di media, kita bisa “berbicara” tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra namun suara kita tetap bisa sampai pada tujuannya. Sayangnya, budaya menulis untuk menyampaikan solusi belum menjadi budaya di sebagian besar kalangan masyarakat. Menulis itu penting, bahkan sangat erat kaitanya dengan peradaban. Menulis pada hakekatnya merupakan upaya mengepresikan apa yag dilihat, didengar, dirasa, dan dipikirkan dalam bahasa tulisan.

Tidak mungkin budaya aksi turun ke jalan dihilangkan, namun perlu adanya penyeimbangan. Dalam paragraph sebelumnya, penulis mengembangkan solusi berupa sifat dan sikap kenegarawan sejati yang harus dimiliki mahasiswa saat ini. Sifat dan sikap ini diharapkan menggantikan idealisme sempit mahasiswa dengan humanism yang mulia yang bersifat nasionalisme dan patriotisme. Kehidupan mahasiswa seyogyanya berlandaskan sifat cinta tanah air yang murni, tanpa adanya embel-embel lain yang menyebabkan perjuangan mahasiswa tidak lagi sebagai simbolisme perjuangan rakyat. Hidup mahasiswa!! (err)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s