Tidak Ada Manusia Yang Sempurna

Abis mengekploitasi  laptopku tersayang (duh bahasanya), ternyata ada tulisan menarik yang mungkin bisa jadi renungan bagi kita semua. Sebenernya bukan tulisan asli yang dibuat penulis jadi gak ada sumber jelasnya, hehe. tapi di header-nya ada tulisan inner world, mungkin pembaca ada yang tahu. Semoga bermanfaat

===================================================================================

Ini kisah perjumpaaan dua orang sehabat yang sudah puluhan tahun berpisah. Mereka berkangen-kangenan, ngobrol santai sambil minum kopi di sebuah cafe. Awalnya topik yang dibicarakan adalah soal-soal nostalgia zaman sekolah dulu, namun pada akhirnya menyangkut kehidupan mereka sekarang ini.

 

“Ngomong-ngomong, mengapa sampai sekarang kamu belum menikah?” ujar seorang kepada temannya yang sampai sekarang masih membujang.

“Sejujurnya sampai saat ini saya masih terus mencari wanita yang sempurna. Itulah sebabnya saya masih melajang. Dulu waktu saya di Bandung, saya berjumpa dengan wanita yang cantik yang amat pintar. Saya pikir inilah wanita ideal saya dan cocok menjadi istri saya. Namun belakangan di masa pacaran ketahuan dia amat sombong. Hubungan kami putus sampai disitu”.

 

“Di Yogyakarta saya ketemu seorang perempuan yang cantik jelita ,ramah dan dermawan. Pada perjumpaan pertama aku kasmaran. Hatiku berdesir kencang, inilah wanita idealku. Namun belakangan saya ketahui, ia banyak tingkah dan tidak bertanggung jawab”.

 

“Dan ketika aku di Jakarta, aku ketemu wanita yang manis, baik, periang dan pintar. Dia sangat menyenangkan apalagi bila diajak berbicara, selalu nyambung dan penuh  humor. Tapi terakhir aku ketahui kalau dia dari keluarga yang berantakan dan selalu menuntut. Akhirnya kami berpisah”.

 

“Saya terus mencari, namun selalu mendapatkan kekurangan dan kelemahan pada wanita yang saya taksir. Sampai pada suatu hari, saya bersua dengan wanita ideal yang saya dambakan selama ini. Ia begitu cantik, pintar, baik hati, dermawan dan penuh humor. Dia juga sangat perhatian dan

sayang kepada orang lain. Saya pikir inilah pendamping hidup saya yang dikirim oleh Tuhan untuk saya”.

 

“Lantas”, sergah temannya yang dari tadi tekun mendengarkan “Apa yang terjadi? Mengapa kamu tidak langsung meminangnya?”.

 

Yang ditanya diam sejenak dan akhirnya dengan suara lirih si bujangan itu menjawab, “Baru belakangan aku ketahui bahwa ia juga sedang mencari pria yang sempurna”.

 

Cerita ini memberi pelajaran kepada kita bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang diciptakan sempurna. Kelebihan dan kekurangan selalu menyertai setiap proses penciptaan manusia. Kesempurnaan itu hanyalah milik Tuhan.

 

Jadi sepertinya kita dituntut untuk tidak menyia-nyiakan apa yang sudah ada di hadapan kita, karena belum tentu kita nanti akan mendapatkan yang lebih baik dari yang sekarang kita dapat, dalam hal apapun. Dan jika kita menginginkan seseorang yang sempurna, semestinya kita harus berkaca dahulu, apakah kita sudah sempurna di hadapan orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s