Peran Serta Wanita dalam Islam

Tulisan ini dibuat dalam rangka hari ibu tahun lalu untuk mading FSI FEUI

Di zaman modern seperti saat ini,perbedaan antara pria maupun wanita sudah mulai bias. Islam menjunjung tinggi derajad serta memberi petunjuk bagaimana wanita bertindak. Menurut Islam, ada berbagai hal yang membedakan hak dan kewajiban antara pria dan wanita. Hak dan kewajiban wanita yang sama dengan pria adalah dalam hal pendidikan, ibadah, sedekah, kebebasan mengeluarkan pendapat, keikutsertaan dalam jihad, kebebasan memilih suami, hak mengasuh anak, serta keikut sertaan untuk mengikuti amar ma’ruf nahi munkar. Di sisi lain, ketidaksamaan hak dan kewajiban pria dengan wanita antara lain dalam hijab, poligami, warisan, dhiyat, persaksian, perceraian, hak untuk berdagang dan mencari pekerjaan, dan wanita sebagai penguasa. Peran serta wanita bisa dilihat dari lingkungan yang terkecil yaitu di lingkungan keluarga. Seorang ibu menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya sebagai peletak pondasi keimanan serta kehidupan di masa depan. Kewajiban ibu adalah mendidik anaknya sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Perilaku ibu juga akan diikuti anak di kemudian hari. Apabila perilaku ibu tidak Islami, maka anaknya pun akan memiliki perilaku yang tidak Islami pula. Bahkan, pendidikan anak yang diberikan oleh sang ibu dimulai sejak dalam kandungan. Janin yang ada di dalam kandungan bisa merasakan perasaan ibunya. Jika si ibu sedih, maka janin juga ikut merasakan kesedihan, dan sebaliknya. Sebagai seorang istri, kewajiban wanita adalah menjaga keharmonisan rumah tangganya. Seorang suami yang shaleh kebanyakan memiliki istri yang shalihah. Tidak sedikit suami yang dulunya kurang baik sebelum beristri menjadi lebih baik ketika menemukan istri yang shalihah. Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan rasa kasih dan sayang di antara kalian.” (QS. Ar-Rum: 21). Kemudian, wanita juga dapat berperan dalam kemajuan suatu negara dengan cara berdakwah dan/ atau berjihad. Jumlah wanita di dunia ini lebih banyak dari pada jumlah laki-laki. Bila potensi ini tidak diarahkan dan dididik dengan baik, ia akan menjadi penghancur masyarakat, negara bahkan dunia. Suatu masyarakat dikatakan berhasil, bila wanitanya berakhlak mulia. Wanita bagaikan mahkota, bila mahkota baik, maka seluruhnya akan kelihatan cantik dan bagus. Tapi bila mahkotanya rusak, maka yang lain pun tidak ada artinya apa-apa. Adalah Ummu Syarik, setelah masuk Islam, beliau mendakwahi wanita-wanita Qurasiy secara diam-diam dan mengajak mereka menerima Islam. Zainab Al- Ghazali adalah di antara figur wanita modern penerus Ummu Syarik. Meskipun wanita dibolehkan keluar rumah -khususnya berdakwah- namun tetap ada batasan-batasan seputar pakaian: • Pakaian harus menutup seluruh anggota tubuh, kecuali wajah dan telapak • Tangan (dalam hal ini para ulama berbeda pendapat). • Pakaian tidak menarik perhatian. • Pakaian tidak sempit. • Tidak pendek bagian bawahnya. • Tidak beraroma minyak wangi. • Tidak menyerupai pakaian laki-laki, karena Rasulullah melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki. • Tidak memakai pakaian dengan maksud agar terkenal di antara manusia. Peran serta wanita dalam hal jihad dapat kita simak dari masa Nabi. Ketika perang Yarmuk, Khalid bin Walid sebagai panglimanya menugaskan wanita, diantaranya Khansa`, untuk berbaris di belakang barisan laki-laki, tapi jaraknya agak jauh sedikit. Tugas mereka adalah menghalau prajurit laki-laki yang melarikan diri dari medan perang. Mereka dibekali pedang, kayu, dan batu. Shafiyah binti Abdul Muthalib juga pernah membunuh seorang Yahudi pengintai. Dan banyak lagi contoh-contoh yang nyata yang dapat menjadi suri tauladan bagi kita. Seiring zaman yang semakin modern sekarang dan kemajuan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, wanita dapat berperan serta untuk memajukan negara dengan mengamalkan ilmunya untuk tanah air. Dunia adalah perhiasan Dan perhiasan yang terindah adalah Wanita shalihah (hadis) *0906490582

Referensi penulis. 1. The Rights and Duties of Women in Islam, Syaikh Abdul Gaffar Hasan, http://www.raudhatulmuhibbin.org

2. Peran Wanita dalam Islam,Ummu Muhammad, islamhouse.com. 3. Artikel http://www.muslimah.or.id.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s