Economic Hit Man dan Mafia Berkeley: Sebuah Tulisan

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi janji saya kepada Andy Deris (begitu nama pena-nya) untuk membaca referensi mengenai perekonomian Indonesia terkait dengan Mafia Berkeley dan CIA beserta bandit-banditnya untuk menghancurkan perekonomian negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia serta menjatuhkan kekuasaan rezim Soekarno waktu itu. Artikel utama beserta sumber-sumber tulisan lain terkait dengan tulisan di bawah adalah Confession of An Economics Hit Man-eBook (John Perkins), Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia-eBook (Ishak Rafik), Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia-eBook  (David Ransom, diterbitkan oleh Koalisi Anti Utang, 2006) serta Opini dari Prof. Ari Kuncoro Ph.D mengenai buku “Pengalaman Pembangunan Indonesia: Kumpulan Tulisan dan Uraian Widjojo Nitisastro”. Ada satu referensi lagi sebenarnya yang menarik untuk dibaca dan dikaji namun berhubung bahasanya bahasa Inggris dan bahasanya sulit dicerna, jadi males untuk bacanya.  LoL. Oia, judulnya, “Mapping The Global Future”

OK, enjoy this ’snack’ :-p

Kamu tau Mafia Berkeley? Siapa sih mereka? Masa’ ngakunya anak FEUI tapi kagak tau sejarahnya sih?

Haahaa, okeoke, sebagai mahasiswa FEUI, kali ini gw nulis opini mengenai Mafia Berkeley dan peranannya dalam pembangunan ekonomi Indonesia dari masa Orde Baru sampai awal 90an serta kaitannya dengan AS. Walaupun ilmu gw masih sedangkal selokan dan secetek kolam ikan, tapi paling enggak tulisan ini dibuat berdasarkan sumber dan data yang valid menurut penulis. Paling enggak kayak gitu lah.

Part One: About Economic Hit Man.

John Perkins

John Perkins

Cerita dimulai dari seorang “bandit” bernama John Perkins. *Who the earth is he? Ha, masa you don’t know. Okeoke, emang namanya gak setenar ariel peterpan ato leo messi (haha), paling enggak dia udah bisa mengguncangkan dunia lewat bukunya yang judulnya “Confession of An Economics Hit Man”.  Selain jadi Economic Hit Man a.k.a Preman Ekonomi (selanjutnya kita sebut EHM) si John ini adalah seorang CEO dari perusahaan energi alternative, guru dan penulis yang menggunakan keahliannya untuk mempromosikan ekologi dan sustainability (kagak tau bahasa indonya, hehe), dan penulis cerita masa lalunya sebagai EHM (CoAEHM, hal.248).  Pas diwawancarai ama Amy Goodman, si John ngaku kalo dia dilatih untuk membangun imperium Amerika untuk membawa dan merekayasa situasi dimana sumberdaya (dunia) sebisa mungkin keluar dan menuju  Amerika, menuju berbagai perusahaannya Amerika, dan menuju pemerintahan Amerika, dan nyatanya kami telah mengerjakan dengan begitu berhasil. Si John ini dikirim untuk bekerja di suatu perusahaan, namanya Chas. T. Main di Boston, Massachusetts. Tugas John disini adalah sebagai kepala ekonom yang membuat deal untuk memberikan hutang raksasa kepada Negara lain yang jumlahnya lebih besar dari kemampuan mereka mengembalikan. Sebanyak 90% dari hutang itu kembali ke perusahaan Amerika yang berkedok membangun infrastruktur di Negara resipien utang tersebut, Jadi, gampangnya dari Amerika, untuk Amerika. Cilakanya, orang-orang yang menikmati infrastruktur itu adalah orang-orang kaya, padahal orang-orang miskin ga dapet apa-apa.

Oke, intinya gini, Amerika minjemin negara-negara berkembang kaya Panama, Ekuador, maupun Indonesia dengan dalih untuk membangun negaranya lewat pembangunan infrastruktur. Nah, pembangunan infratstruktur itu dikerjakan oleh perusahaan Amerika. Pas utang itu jatuh tempo, negara-negara yang semula emang gak bisa membayar utang-utang itu disuruh mbayar, tapi tetep aja gak bisa. Amerika minta kompensasi minyak atau sumber daya alam lain untuk melunasi hutang negara-negara itu kepada Amerika. Terus gimana yang menolak keainginan amerika? Bunuh. Itu yang terjadi pada Presiden Panama, Omar Torrijos, dan Presiden Ekuador, Jaime Roldos. Dua presiden yang menolak bekerjasama dengan AS itu dilenyapkan dengan kedok kecelakaan mengerikan. Operasi para preman ini memang bertingkat. Level pertama, menggelontorkan utang untuk kemudian memeras negara tersebut. Jika pemerintahan negara itu menolak, masuk level dua, yakni jagal (the jackal) beroperasi dengan membunuh sebagaimana di Ekuador. Jika upaya membunuh gagal, masuk level ketiga: operasi militer. Irak adalah contohnya..

Omar Torrijos, Presiden Panama

Omar Torrijos, Presiden Panama

Jaime Roldos, Presiden Ekuador

Jaime Roldos, Presiden Ekuador

Indonesia gimana? Untungnya,  Indonesia masih masuk level pertama. Dimulai dari tiga bulan keliling Indonesia pada 1971, Perkin ditugasi membuat skenario bahwa pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita naik drastis. Kemudian angka fantastis itu dilaporkan ke Bank Dunia dan IMF. Maka mulailah pemerasan kekayaan Indonesia setelah sebelumnya menjerat dengan utang yang mustahil untuk dilunasi. Presiden AS Richard Nixon saat itu berpesan agar Indonesia diperas sampai kering, dan jangan sampai jatuh ke tangan Uni Sovyet. Hasilnya, AS menyedot minyak, mengeruk emas, dan eksploitasi aset lain untuk kepentingan mereka, sementara kita terengah-engah membayar utang.

Ihh, ngeri ya..

Richard Nixon, U.S. President

Richard Nixon, U.S. President

Gimana rasanya kalo Indonesia sama kayak Iraq? Tapi sama juga kalo sekarang kita dibebani sama utang-utang luar negeri yang mungkin sampai anak-cucu kita yang menanggungnya, sama aja bo’ong :p

Disini, peran ekonom-ekonom lulusan Amerika sewaktu mengurus ekonomi Indonesia terlihat. Mereka dikenal dengan sebutan Mafia Berkeley. Bagaimana peran mereka terhadap perekonomian Indonesia? Berdampak baik atau burukkah? Let’s see the next part of this article. (to be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s