Antara Fisika dan Kepemimpinan

Kepemimpinan dalam fisika

Prof. Johannes Surya, Ph.D, rektor Universitas Multimedia Nusantara dan lektor tim Olimpiade Fisika Indonesia, menganalisis apakah ada hubungannya rumus-rumus fisika dengan aspek-aspek kepemimpinan, apakah rumus-rumus tersebut bisa diterapkan dalam organisasi sehingga bisa berlaku umum.

Beliau menjelaskan empat hukum fisika yang bisa diakitkan dengan kepemimpinan. Hukum pertama adalah hukum Newton. Kita mengenal ada tiga hukum newton. Hukum pertama adalah hukum kelembaman / inersia. Hukum pertama mengatakan bahwa suatu benda yang sedang diam akan cenderung untuk tetap diam jika tidak ada yang mengganggunya. Atau suatu benda yang sedang bergerak lurus teratur akan terus bergerak lurus teratur. Sedangkan hukum kedua mengatakan bahwa benda yang mendapat gaya akan bergerak dipercepat. Makin besar gayanya makin besar pula percepatannya. Dan yang terakhir adalah bahwa ketika benda mendapat gaya (aksi) benda akan memberikan gaya reaksi yang besarnya sama dengan gaya aksi tersebut. Ketiga hukum Newton ini bekerja dengan baik pada suatu sistem inersial (suatu sistem yang tenang, sistem yang tidak dipercepat, tidak dalam keadaan chaos).
Dalam kepemimpinan, hukum Newton ini dapat diterapkan pada kondisi organisasi (perusahaan, daerah, negara) yang tenang atau
dibuat tenang. Dalam kondisi tenang ini, orang cenderung malas. Mereka malas bergerak, mereka maunya diam saja (hukum I Newton). Pemimpin yang dibutuhkan disini adalah pemimpin yang mempunyai visi yang jelas dan terukur serta mempunyai daya dobrak. Visi dapat menjadi suatu faktor pendorong untuk mempercepat kemajuan organisasi ini. Dengan daya dobrak yang dimiliki, pemimpin ini akan mampu menghadapi kelembaman (kemalasan) dari orang-orang yang dipimpinnya dan mampu memberikan stimulir-stimulir untuk orang-orang di organisasi tersebut terus bergerak. Pemimpin jenis ini butuh SDA serta SDM yang kuat
agar ia mempunyai energi yang cukup untuk terus memberikan gaya penggerak. pemimpin jenis ini juga harus bersikap otoriter kepada bawahannya. Pemimpin harus meyakinkan organisasinya agar organisasi yang dipimpinnya tenang dan stabil. Tidak boleh ada oposisi yang menentang pemikirannya.

Hukum kedua adalah hukum relativitas Einstein.
Pada awal abad kedua puluh, Einstein memperkenalkan teori relativitasnya. Menurut teori ini tidak ada gerak absolut. Semua gerak bersifat relatif (sangat tergantung pada siapa yang mengamatinya). Seorang bisa menganggap gerak suatu pesawat cepat, tapi orang lain bisa menganggap gerak pesawat itu lambat, bahkan ada yang menganggap pesawat itu berhenti. Sebagai contoh ketika kita berada dalam kereta api yang bergerak, kita melihat seolah-olah pohon-pohon yang terletak di luar kereta bergerak. Padahal orang yang berdiri dekat pohon itu melihat pohon tidak bergerak. Disini gerak pohon sangat tergantung pada siapa yang mengamatinya. Pada gerak relativistik ini, mereka yang bergerak paling cepat lah yang paling menonjol. Semua pengamat (kecuali dirinya) akan melihat ia bergerak. Kondisi relatif ini terjadi pada masyarakat demokrasi dimana setiap orang merasa dirinya paling benar. Tidak ada kebenaran absolut. Dalam suatu organisasi atau perusahaan, kondisi relatif ini terjadi ketika setiap orang dalam organisasi atau perusahan ini merasa dialah yang paling berjasa, paling benar dan paling berhak memimpin. Dalam kondisi relatif ini akan terdapat banyak oposisi. Oposisi akan selalu menganggap dirinya lebih benar dari lawannya. Mereka berusaha mencari-cari kesalahan lawannya lalu sekali saja ia menemukan kesalahan lawannya, ia langsung menghantamnya.
Pemimpin yang dibutuhkan dan bisa bertahan dalam kondisi ini adalah pemimpin yang mempunyai keunggulan-keunggulan dalam visi, mempunyai integritas tinggi dalam menjalankan visi itu dan mau kerja keras serta bergerak cepat dalam merealisasikan program-program yang mendukung visi yang unggul itu. Kecepatan bergerak sangat diperlukan karena mereka terus menerus
dipantau oleh oposisi. Integritas sangat perlu, kalau mereka sampai jatuh habislah mereka.

Hukum ketiga mungkin yang paling sulit dijelaskan oleh saya. Hukum ketiga ini mengenai hukum kuantum. Inti yang bisa saya tuliskan adalah semua hal itu mungkin, semua hal yang mustahil sekalipun mungkin bisa saja terjadi. Ingat hukum ketidakpastian Heisenberg pada teorema inti dan kulit atom ?? Mungkin teorema itu salah satu yang bisa menjelaskan teori kuantum yang njlimet ini. Fenomena kuantum ini cocok untuk mereka yang berada pada suasana ketidakpastian yang tinggi. Misalnya pada perusahaan-perusahaan yang bermain dengan resiko atau pada negara yang sedang dalam keadaan kalut akibat perubahan suatu sistem. Pemimpin yang bisa bertahan dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini adalah pemimpin yang kreatif (punya ide-ide dan terobosan-terobosan baru), berani mengimplentasikan pemikiran kreatifnya walau dengan resiko yang tinggi, berani spekulasi tapi didukung dengan perhitungan yang baik, dan bertindak tegas.

Dan hukum keempat yang mungkin baru pertama kali saya dengar adalah MESTAKUNG (seMESTA menduKUNG). Salah satu contoh hukum ini adalah pasir dituangkan diatas lantai, pasir akan membentuk suatu bukit, makin lama pasir makin tinggi. Tapi terjadi keanehan ketika pasir mencapai ketinggian kritis. Pada ketinggian kritis ini pasir mengatur diri, mempertahankan kemiringan bukit tetap sama. Sehingga bukit tidak hancur. Hal yang sama terjadi ketika angsa-angsa yang tinggal di daerah 4 musim menghadapi musim dingin. Ketika musim dingin tiba angsa berada pada kondisi kritis. Mereka berdiam diri akan mati kedinginan, terbangpun mereka akan mati karena daerah yang hangat jaraknya
ribuan kilometer. Kondisi kritis ini membuat angsa-angsa mengatur diri. Mereka terbang membentuk huruf “V”. Pada formasi ini angsa yang paling lelah adalah angsa yang terdepan. Ketika angsa ini lelah, angsa-angsa lain mengatur diri menggantikannya satu persatu. Ada pengaturan diri ketika kondisi kritis.
Semua peristiwa itu oleh Prof. Jo dinamakan mestakung, yaitu proses keluar dari kondisi kritis. Ada tiga aspek dalam mestakung. Aspek/hukum pertama adalah pada kondisi kritis ada jalan keluar. Hukum kedua adalah ketika seorang melangkah ia akan melihat jalan keluar dan hukum ketiga adalah ketika seorang tekun melangkah, ia akan mengalami
mestakung. Jika kita mendalami lebih dalam, ketiga hukum itu juga terdapat dalam Al-Qur’an . Hukum pertama terdapat dalam surat Al-Insyirah ayat enam,”sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” dan ayat lainnya adalah Surat Ar-Rad aya 11, “sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah nasib mereka sendiri.”. Mestakung terjadi hanya ketika kondisi kritis. Untuk membuat hukum ini bekerja kita harus membuat situasi kritis. Setelah itu kita harus melangkah. Nah ketika kita melangkah dengan tekun inilah terjadilah mestakung (semesta mendukung). Mestakung akan menciptakan pelipatgandaan hasil, yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang mustahil menjadi kenyataan, terjadi hal-hal yang luar biasa. Pemimpin yang dibutuhkan dalam situasi ini adalah pemimpin yang ngoyo (kejar habis). Pemimpin ini harus punya ambisi besar, mau kerja keras dan tekun (tidak akan berhenti sebelum tujuan ini tercapai). Pemimpin ini harus punya ekstra energi dan didukung oleh pembantu- pembantunya yang juga mempunyai ambisi yang sama. Dalam tim yang dibentuk harus muncul kesadaran bahwa mereka tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai. Mereka harus sadar bahwa begitu mereka berhenti di tengah jalan maka
mestakung tidak akan bekerja, dan mereka tidak akan berhasil.

Semoga bermanfaat !!
sumber: Kepeminpinan dalam Fisika, (Prof. Yohanes Surya Ph.D/Rektor Universitas Multimedia Nusantara).Format PDF.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s